Tampilkan postingan dengan label Industrial Age. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industrial Age. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

10 Fakta Menarik seputar Perang Sipil Amerika




Perang Sipil Amerika (American Civil War) merupakan perang saudara yang terjadi di Amerika Serikat antara tahun 1861 hingga 1865. Dalam perang ini dua pihak saling berhadapan yaitu Negara Konfederasi (Confederate States of America) dan Pemerintah Federal AS (Union).

Negara Konfederasi Amerika atau ‘Konfederasi’ adalah kumpulan 11 negara bagian Selatan yang tetap mendukung perbudakan dan menarik diri dari pemerintah federal (union).
Fakta tentang Perang Sipil Amerika (1861-1865)

Berikut adalah beberapa fakta dan informasi tentang Perang Sipil Amerika:



1. Perang Sipil Amerika atau Perang Saudara Amerika dimulai pada tanggal 12 April 1861, saat pasukan Konfederasi menyerang instalasi militer AS di Fort Sumter di South Carolina, dan berakhir pada tanggal 9 April 1865 saat pasukan Union memenangkan perang.

Sekitar 6000 pertempuran berlangsung selama perang dan sebagian besar terjadi di wilayah Selatan.



2. Sekitar 2.100.000 tentara berpartisipasi dalam perang membela Union, sementara 1.064.000 tentara berpartisipasi membela Konfederasi.

Korban tewas di kamp Union tercatat sebesar 360.000 orang dengan 110.000 diantaranya tewas di medan perang.

Sementara itu, 260.000 tercatat tewas di kamp Konfederasi dengan 93.000 diantaranya tewas di medan perang.

Lebih dari 10.000 tentara yang mewakili Union berumur di bawah 18 tahun.



3. Ulysses S. Grant memimpin 533.000 pasukan Union setelah dia dipromosikan menjadi Letnan Jenderal pada tahun 1864.

Dia akhirnya terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-18 pada tahun 1869.



4. Selama perang, banyak pertempuran intens yang menyebabkan sejumlah besar korban dalam waktu singkat.

Dalam Pertempuran Shiloh yang terjadi di tepi sungai Tennessee, jumlah korban tewas mencapai 23.700 orang.

Lebih banyak orang Amerika tewas dalam perang ini dibandingkan kombimasi dari perang-perang sebelumnya.

Dalam satu hari, tercatat 12.401 orang tentara Union tewas pada Pertempuran Antietam. Peristiwa tersebut dikenang sebagai hari paling berdarah dalam perang saudara.

Pada Pertempuran Cold Harbor di Virginia, sebanyak 7.000 tentara tewas dalam kurun waktu 20 menit.



5. Pertempuran sengit antara dua kapal perang USS Kearsarge dan CSS Alabama terjadi di lepas pantai Cherbourg, Perancis.

Orang Perancis berkumpul di pantai untuk menyaksikan pertempuran bersejarah tersebut.

Pelukis Perancis Pierre-Auguste Renoir mengabadikan momen ini dalam sebuah lukisan yang kini disimpan di Philadelphia Art Gallery.



6. Senapan tembakan tunggal merupakan senjata paling umum yang digunakan selama Perang Saudara Amerika. Peluru senapan ini diisi melalui laras

80% dari luka yang diderita oleh tentara selama pertempuran disebabkan oleh senjata ini, yang dapat menembakkan tiga peluru dalam satu menit dengan jangkauan sekitar 900 meter.

Bola ‘minie’, peluru ditemukan oleh tentara Perancis, Kapten Minie, juga menyebabkan banyak korban.



7. Meskipun artileri secara ekstensif digunakan dalam perang, hanya 10% dari total korban disebabkan oleh tembakan artileri.

Suara rentetan meriam pada Pertempuran Gettysburg terdengar hingga Pittsburgh yang berjarak sekitar 160 km.

Rata-rata, seorang prajurit membawa 3,5 kg amunisi, termasuk 40 peluru dalam kotak cartridge dan 60 peluru yang dibawa dalam tas.

Selain senapan dan meriam, senjata lain yang digunakan dalam Perang Saudara Amerika termasuk revolver, granat tangan, ranjau darat, pedang, api Yunani dan pedang pendek.



8. Lebih dari 360.000 tentara Amerika Serikat kehilangan nyawa dalam perang ini.

Dari jumlah tersebut, hanya sepertiga yang tewas akibat pertempuran sedangkan dua pertiga sisanya tewas akibat wabah penyakit.

Penyakit yang paling umum diderita selama Perang Saudara adalah tifus, malaria, pneumonia, disentri, arthritis, dan kekurangan gizi.



9. Kampanye Peninsula dan Pertempuran Antietam merupakan pertempuran pertama yang menggunakan korps ambulans terorganisir.

Lebih dari 1100 ambulans digunakan dalam Pertempuran Gettysburg.

Para direktur medis dari pasukan Union melaporkan bahwa semua prajurit yang terluka dibawa keluar medan perang dan diberikan perhatian medis hingga 12 jam setelah perang berhenti.

Red Rover, sebuah kapal perang rumah sakit AL, pertamakali digunakan selama pertempuran Vicksburg.



10. Perang Saudara Amerika akhirnya berakhir pada tanggal 9 April 1865 saat pihak Konfederasi menyerah kepada pasukan Union.

Berakhirnya perang menandai awal dari ‘Era Rekonstruksi’ dalam politik Amerika Serikat dan menjadi momentum diakhirinya perbudakan di Amerika Serikat.






sumber: http://www.amazine.co/23351/10-fakta-informasi-menarik-tentang-perang-sipil-amerika/
.

Sabtu, 21 Februari 2015

Pembelian Wilayah Alaska oleh Amerika Serikat



Alaska adalah salah satu negara bagian Amerika Serikat yang terletak di wilayah Kutub Utara, tepatnya berbatasan dengan Yukon dan British Columbia di Kanada, Samudera Pasifik, Teluk Alaska, Selat Bering, Laut Beaufort, dan Laut Chukchi. Alaska merupakan negara bagian Amerika Serikat yang paling luas dengan jumlah penduduk paling sedikit. 


Cuaca ekstrem dan terbatasnya sarana transportasi membuat enggan siapapun untuk bermukim, walaupun sumber alamnya melimpah. Selain itu, letak geografis Alaska tidak tersambung dengan daratan Amerika Serikat, sehingga wilayah tersebut merupakan daerah eksklave.



Latar Belakang

Sebelum bergabung dengan Amerika Serikat, Alaska merupakan wilayah kekuasaan Kekaisaran Rusia. Vitus Bering, seorang berkebangsaan Denmark yang bekerja untuk Rusia, berhasil mencapai Alaska pada tahun 1728. Namanya diabadikan sebagai nama selat yang memisahkan antara Asia dan Amerika, yaitu Selat Bering.

Pada tahun 1853-1856, terjadi Perang Krimea antara Kekaisaran Rusia melawan gabungan kekuatan Perancis, Inggris, Kerajaan Sardinia, dan Kesultanan Utsmaniyah. Perang yang menelan biaya tinggi menyebabkan krisis keuangan di Rusia. Krisis keuangan semakin parah saat utang 15.000.000 poundsterling yang dipinjam pemerintah Rusia dari keluarga Rothchilds mendekati waktu jatuh tempo. Keadaan tersebut memaksa pemerintah Rusia mengambil langkah instan dengan menjual sesuatu yang kurang berguna, sesuai saran yang disuarakan adik Tsar, Pangeran Konstantin Nikolaevich.
Pengkajian singkat Tsar Alexander II terhadap saran adiknya membuahkan sebuah keputusan, yaitu menjual Alaska kepada Amerika Serikat. Selain faktor krisis keuangan yang melanda Rusia, faktor “takut kehilangan” akibat ekspansi Inggris di Amerika Utara juga menjadi bahan pertimbangan. Inggris yang menjadi lawan Rusia saat Perang Krimea dikhawatirkan akan menganeksasi Alaska yang tanpa perlindungan militer. Melalui British Columbia, koloni Inggris di Amerika Utara yang berbatasan langsung dengan Alaska, Inggris bisa kapan saja mencaplok wilayah tersebut.





Pembelian Alaska

Pada tahun 1859 (3 tahun setelah Perang Krimea), pemerintah Rusia menawarkan Alaska kepada Amerika Serikat. Proses penawaran sempat terhenti saat meletus Perang Saudara Amerika. Penawaran kembali dilanjutkan usai perang berakhir ketika Tsar Alexander II memerintahkan salah satunya menterinya, Eduard de Stoeckl untuk berangkat ke Amerika Serikat. Penawaran yang dilakukan dengan Sekretaris Negara Amerika Serikat, William H. Seward langsung ditanggapi dan masuk ke tahap negosiasi.

Negosiasi pertama dilakukan pada awal Maret 1867. Setelah melewati beberapa sesi yang alot, kesepakatan harga pembelian wilayah seluas 1.518.800 km2 akhirnya ditandatangani pada pagi hari pukul 04.00, tanggal 30 Maret 1867, dengan nominal $ 7.200.000, atau sekitar $ 4,74 per km2. Penandatanganan kesepakatan tersebut nantinya akan dibawa William H. Seward ke parlemen untuk pengesahan. Dalam hal ini berarti jual-beli yang dilakukan Eduard de Stoeckl dan William H. Seward masih belum pasti.

Sambil menyelam minum air, Rusia merasa bahwa penjualan Alaska kepada Amerika Serikat memiliki kesempatan untuk melemahkan kekuasaan Inggris di Amerika Utara. Dengan begitu, koloni Inggris akan terjepit oleh Amerika Serikat yang berpeluang menganeksasi seluruh koloni Inggris di Amerika Utara, termasuk British Columbia dan pangkalan Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) di Esquimalt.





Reaksi Publik Amerika

Kesepakatan yang dilakukan William H. Seward ternyata tidak seluruhnya disetujui publik Amerika Serikat. Sejarawan Ellis Paxson Oberholtzer merangkum pernyataan minoritas yang menentang pembelian, yang diambil dari beberapa editor surat kabar Amerika. Bagi mereka, meskipun Pembelian Alaska terbilang tidak mahal, dampaknya akan berimbas pada keuangan Amerika Serikat yang nantinya akan tersedot untuk sekadar biaya administrasi sipil dan militer. Selain itu, “padang gurun beku” tersebut letaknya terpisah dengan daratan Amerika Serikat sehingga rentan dianeksasi.

Terlepas itu semua, sebagian besar kalangan justru mendukung Pembelian Alaska yang berpendapat bahwa Amerika Serikat mungkin akan memperoleh manfaat ekonomi yang besar, sekaligus meningkatkan hubungan persahabatan dengan Rusia yang dianggap penting. Selain itu, 45% surat kabar Amerika juga mendukung pembelian tersebut sebagai pijakan awal untuk menganeksasi British Columbia.

Dalam suasana pro dan kontra yang mencuat, faktanya Pembelian Alaska berkali-kali lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat. Wilayah yang dianggap “padang gurun beku” ternyata kaya akan sumber daya alam, seperti emas, tembaga, minyak bumi, dll.





Debat Senat

Untuk memperlancar langkahnya, William H. Seward membujuk Presiden Andrew Jonhson untuk menggelar sidang khusus Senat dengan jaminan tidak akan ada perdebatan. Partai Republik yang menjadi oposisi mencemooh “kebodohan Seward” dalam konteks kurangnya manfaat pembelian, bukan didasari permusuhan politik.

Pada tanggal 9 April 1867, Charles Sumner, Ketua Komite Senat Hubungan Luar Negeri, memenangkan persetujuan kesepakatan penandatanganan Pembelian Alaska dengan suara 37:2. Sejak saat itu, lebih dari setahun kasus ini tenggelam seiring memburuknya hubungan Presiden Andrew Johnson dengan Kongres. Alhasil, DPR menolak mencairkan dana yang diperlukan untuk transaksi Pembelian Alaska.

Pada bulan Juni 1868 (setelah sidang impeachment Presiden usai), Eduard de Stoeckl dan William H. Seward mengangkat kembali kampanye Pembelian Alaska. Pada bulan Juli 1868, akhirnya DPR menyetujui Pembelian Alaska dengan suara 113:48. Proses pembayaran dilakukan pada tanggal 1 Agustus 1868, melalui Riggs Bank yang menguangkan cek untuk pihak Rusia.





Kepemilikan Alaska

Dengan Pembelian Alaska yang difasilitasi William H. Seward, Amerika Serikat memperoleh wilayah yang luasnya dua kali lebih besar dari Texas. Secara tidak langsung Amerika Serikat mewarisi pengawasan Rusia di Alaska yang diperkirakan berisi sekitar 2.500 orang Rusia dan 8.000 orang pribumi, serta sekitar 50.000 pribumi yang ada di luar yurisdiksi. 

Selain itu ada 2 daerah setingkat kota: New Archangel (sekarang Sitka) berpenduduk 968 jiwa yang didirikan tahun 1804 untuk menangani perdagangan kulit otter laut; dan St. Paulus di Kepulauan Pribilof yang merupakan pusat industri segel bulu yang berpenduduk 283 jiwa. Setelah itu, Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat mengubah penggunaan nama Alyaska (sebutan Rusia untuk Alaska) yang diambil dari bahasa Aleut, untuk disesuaikan dengan lidah orang Amerika sehingga menjadi “Alaska”.





Upacara Serah Terima

Pada tanggal 18 Oktober 1867, berlangsung upacara serah terima wilayah Alaska oleh Kekaisaran Rusia yang diwakili Kapten Aleksei Alekseyevich Peshchurov kepada Amerika Serikat yang diwakili Jenderal Lovell Rousseau. Upacara serah terima dilakukan di Sitka dan dimeriahkan gemuruh tembakan artileri yang mengiringi parade bersama Tentara Rusia dan Amerika Serikat di depan rumah gubernur. Sebagai simbol serah terima, bendera Rusia diturunkan dan digantikan bendera Amerika Serikat. Setelah itu Tentara Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Jefferson Davis menempati barak bekas Tentara Rusia.





Keadaan Setelah Serah Terima

Menurut kisah T. Ahllund, seorang pandai besi yang bekerja di Sitka, tidak lama setelah upacara serah terima yang dilakukan kedua pihak, hampir semua orang Rusia di Alaska memutuskan untuk kembali ke Rusia, kecuali beberapa pedagang dan pendeta yang memilih menetap. Namun tidak lama setelahnya, sejumlah orang Rusia yang memilih menetap pada akhirnya juga memutuskan kembali ke Rusia, termasuk beberapa pedagang yang mengorbankan usahanya.

Hidup sebagai warga sipil Sitka di bawah kekuasaan Amerika Serikat sangat tidak nyaman di mata orang Rusia. Perbedaan budaya dan bahasa menjadi kendala utama dalam bersosialisasi. Selanjutnya mereka mengumpulkan dana kolektif untuk membeli kapal sebagai transportasi pulang ke Rusia. T. Ahllund mengatakan bahwa perjalanan mereka diwarnai mabuk laut di setiap pelabuhan yang disinggahi. Pelayaran yang tak terlupakan itu melewati rute Pulau Sandwich (Hawaii), Tahiti, Brasil, London, dan berakhir di Pelabuhan Kronstadt, St. Petersburg.




Alaska Day

Alaska Day atau Hari Alaska merupakan perayaan tahunan di Alaska dalam rangka memperingati hari upacara serah terima wilayah Alaska oleh Kekaisaran Rusia kepada Amerika Serikat pada tanggal 18 Oktober 1867, tanggal pada kalender Gregorian yang mulai berlaku di Alaska pada hari berikutnya untuk menggantikan kalender Julian yang digunakan Rusia (kalender Julian pada abad ke-19 merupakan 12 hari di belakang kalender Gregorian).

Perayaan resmi Alaska Day setiap tanggal 18 Oktober biasa diadakan di Sitka. Alaska Day merupakan hari libur bagi semua pegawai negeri dan siswa di negara bagian Alaska. Dalam perayaan tersebut akan dilakukan parade dan pengibaran bendera.






sumber: https://vincentandrik.wordpress.com/2014/04/03/pembelian-alaska/
.

Jumat, 20 Februari 2015

Tahun-Tahun Terakhir Kekhalifahan Ottoman



Partisi Ottoman Lewat Traktat Sevres, Daerah Kuning Muda adalah Daerah Ottoman

Di Abad Pertengahan, Kesultanan Ottoman merupakan salah satu negara adidaya yang wilayahnya membentang di atas tiga benua. Namun seiring berjalannya waktu, kedigdyaan Ottoman sedikit demi sedikit mulai tergerus. 

Munculnya Revolusi Industri dan terbukanya jalur penjelajahan ke benua lain membuat negara-negara Eropa mulai bisa mengimbangi kedigdayaan Ottoman. Sementara dari dalam Ottoman sendiri, kesultanan raksasa tersebut dipusingkan oleh merebaknya sentimen nasionalisme di daerah-daerah kekuasaannya.

Pendirian parlemen tidak serta merta membuat keadaan Ottoman langsung membaik. Masih belum stabilnya kondisi dalam negeri pasca pendirian parlemen yang dikombinasikan dengan mewabahnya sentimen nasionalisme kedaerahan lantas berujung pada pecahnya pemberontakan di Balkan, Eropa Tenggara. Pasukan Ottoman menderita kekalahan dalam perang tersebut sehingga Ottoman harus kehilangan sebagian besar wilayahnya yang ada di Eropa pada tahun 1913. Sebelumnya, pada tahun 1911 Ottoman juga harus kehilangan wilayah Libya, Afrika Utara, akibat dicaplok oleh pasukan Italia.

Kehilangan banyak wilayah strategis dalam rentang waktu yang begitu singkat jelas tidak disukai oleh pihak Ottoman. Maka, pemerintah Ottoman pun menjalin persekutuan rahasia dengan Jerman dan Austria-Hungaria. Fokus utama dari Ottoman saat menjalin persekutuan dengan kedua negara tadi adalah Rusia, karena baik Ottoman maupun Rusia sama-sama berambisi menjadikan wilayah Kaukasus dan Balkan berada di bawah kekuasaannya. Harapannya, jika perang melawan Rusia benar-benar meletus, Jerman dan Austria-Hungaria akan membantu Ottoman di medan perang.



Dihantam dari Dalam dan Luar Negeri

Bulan Juni 1914, putra mahkota Austria-Hungaria tewas ditembak oleh ekstrimis Serbia kelahiran Bosnia, Gavrilo Princip. Bagaikan api disiram bensin, peristiwa tersebut langsung menimbulkan efek berantai yang sangat besar. Austria-Hungaria melakukan invasi militer ke wilayah Serbia sebulan sesudah peristiwa penembakan tersebut. Tindakan yang lantas direspon Rusia – negara sekutu Serbia – dengan menyatakan perang kepada Austria-Hungaria. Tak lama berselang, negara-negara Eropa lain seperti Jerman dan Perancis ikut melibatkan diri dalam perang. Sebagai akibat dari begitu banyaknya negara yang terlibat, perang yang bersangkutan di kemudian hari dikenal dengan sebutan Perang Dunia I (PD I).

Ottoman awalnya berusaha untuk tidak ikut terseret dalam PD I. Namun menyusul tindakan Ottoman yang membiarkan kapal-kapal perang Jerman menggunakan perairan lautnya, negara-negara Sekutu musuh Jerman akhirnya menyatakan perang kepada Ottoman. Di tahun-tahun awal peperangan, Ottoman yang dibantu oleh Jerman dan Austria-Hungaria masih bisa mengimbangi sepak terjang dari pasukan negara-negara Sekutu. Namun Ottoman akhirnya kewalahan karena kondisi perekonomian mereka memang sudah tidak lagi menunjang untuk mendanai perang berskala besar. Situasi makin runyam setelah orang-orang Arab dan Armenia yang ada di wilayah Ottoman melakukan pemberontakan.

Ketidakmampuan Ottoman untuk berperang lebih lama lagi memaksa Sultan Ottoman menyerah tanpa syarat dan berunding dengan perwakilan negara-negara Sekutu. Perundingan tersebut lantas menghasilkan kesepakatan yang dikenal sebagai Traktat Sevres pada tanggal 10 Agustus 1920. Lewat perjanjian tersebut, pihak Sekutu membiarkan Sultan tetap menjadi penguasa Ottoman. Namun sebagai gantinya, Ottoman harus menyerahkan sebagian besar wilayahnya ke negara-negara Sekutu. Berdasarkan Traktat Sevres pula, jumlah personil militer Ottoman dibatasi dan pihak Sekutu diperbolehkan menempatkan pasukannya di Konstantinopel (sekarang bernama Istanbul) yang saat itu masih berstatus sebagai ibukota Kesultanan Ottoman.

Poin-poin dalam Traktat Sevres dianggap sebagai pelecehan terhadap harga diri bangsa Turki. Kemauan Sultan untuk menerima traktat tersebut juga membuat ia semakin kehilangan wibawa di hadapan rakyatnya sendiri. Maka, orang-orang Turki yang menentang keberadaan pasukan asing di tanah Turki mendirikan gerakan nasionalis bawah tanah di Ankara, Turki tengah, dengan Mustafa Kemal Attaturk sebagai pemimpinnya. Untuk memperkuat diri, kelompok nasionalis Turki juga melakukan perjanjian rahasia dengan kelompok komunis Bolshevik di Rusia. Bolshevik setuju untuk menyalurkan bantuan emas dan persenjataan ke pihak Ottoman. Sebagai gantinya, kelompok nasionalis Turki akan membiarkan daerah Kaukasus menjadi milik Bolshevik jika kelompok nasionalis berhasil memenangkan perang dan menjadi penguasa baru Turki.




Dimulainya Perang Pembebsan

Bagaikan tanaman layu yang disiram air segar, bantuan logistik dari Bolshevik membuat kelompok nasionalis Turki semakin percaya diri sehingga mereka kini berani melakoni perang berskala besar melawan negara-negara Sekutu. Intensitas konflik di tanah Turki pun jadi semakin meningkat. Pasukan Sekutu memang memiliki keunggulan dalam hal jumlah personil, namun pasukan nasionalis Turki lebih unggul dalam hal semangat juang dan pemahaman akan medan konflik karena mereka berperang di tanah airnya sendiri. Modal keunggulan tersebut berhasil dimaksimalkan dengan baik oleh pasukan nasionalis Turki sehingga menjelang akhir tahun 1922, seluruh daratan Anatolia berada di bawah kendali kubu nasionalis.

Performa gemilang pasukan nasionalis Turki sukses memaksa negara-negara Sekutu untuk mengibarkan bendera putih pada tanggal 11 Oktober 1922. Terhentinya konflik bersenjata lantas dimanfaatkan oleh kelompok nasionalis untuk membubarkan Kesultanan Ottoman pada tanggal 1 November 1922. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sultan untuk menghentikan upaya pembubaran tersebut mengingat kelompok nasionalis sekarang merupakan kelompok terkuat di tanah Turki. Maka, hanya berselang 16 hari pasca keluarnya pernyataaan resmi mengenai pembubaran Kesultanan, Sultan Mehmed VI pergi meninggalkan Turki dengan menumpang kapal militer Inggris. Perginya sultan sekaligus menjadi akhir dari riwayat Kesultanan Ottoman yang sudah bertahan selama berabad-abad.

Sukses memenangkan perang dan membubarkan kesultanan, kelompok nasionalis kini terlibat perundingan dengan negara-negara Sekutu untuk menentukan masa depan Turki. Perundingan tersebut sukses menghasilkan kesepakatan baru yang bernama Traktat Lausenne pada tanggal 24 Juli 1923. Berdasarkan traktat tersebut, negara-negara Sekutu mengakui kelompok nasionalis Turki sebagai penguasa berdaulat wilayah Anatolia dan Konstantinopel. Namun selain kedua wilayah tadi, wilayah-wilayah Ottoman yang hilang seusai Perang Dunia I seperti Mesir dan Siprus status politiknya tetap tidak berubah. Alias tidak termasuk dalam wilayah Turki. 

Tanggal 29 Oktober 1923 atau beberapa bulan sesudah penandatanganan Traktat Lausenne, Republik Turki secara resmi berdiri dengan Mustafa Kemal Attaturk sebagai presiden pertamanya. Kota Ankara yang semasa perang pembebasan menjadi basis utama dari kelompok nasionalis dijadikan ibukota negara yang baru menggantikan Konstantinopel, ibukota negara di era Ottoman. Wilayah Republik Turki dalam perkembangannya bertambah luas – walaupun tidak seluas wilayah Ottoman.






.

Rabu, 18 Februari 2015

Pistol Colt M1911



Colt 1911 
dirancang oleh Samuel Colt dan John Browning pada tahun 1887. Rancangan senjata dengan sistim magazen tersebut awalnya didisain untuk tentara Amerika yang merasa kewalahan menggunakan revolver kaliber 38 dalam melawan perlawanan suku Moro di Filipina.

Dengan desain baru dan peluru berdiameter lebih besar (kaliber 45), Pistol yang diambil dari bahasa Perancis ‘pistolet’ dirancang untuk memberikan daya hantam (stopping power) lebih besar ketimbang revolver caliber 38 yang saat itu digunakan oleh tentara Amerika.

Pada tahun 1906, desain-desain pistol yang dirancang oleh pembuat senjata Colt, Browning, Luger, Savage, Knoble, Bergmann, White-Merrill and Smith & Wesson, mulai diuji-cobakan di kemiliteran Amerika.

Salah satu rancangan, yakni milik Samuel Colt saat itu menjadi produk terbaik pada ujicoba yang dijalankan pada tanggal 3 Maret 1911. Model tersebut kemudian populer dengan nama Colt 1911.

Pada ujicoba tersebut, pistol desain Colt tersebut lulus menembakkan 6000 peluru dengan penembakan terus-menerus per-100 butir peluru, dengan masa istirahat 5 menit, dan pembersihan pistol setiap 1000 peluru.

Setelah lulus ujicoba tersebut. Pistol tersebut diproduksi secara massal, dan diberi kode seri Colt Model 1911-A1 (atau M1911-A1). Sejak saat itu, desain pistol tidak (atau belum) pernah berubah hingga kini. Colt 1911 tersebut, sering dijuluki “A Mother of All Pistol.”




Spesifikasi :
  • Weight : 2.44 lb (1,105 g) empty, with magazine
  • Length : 8.25 in (210 mm)
  • Barrel length : Government model: 5.03 in (127 mm), Commander model: 4.25 in (108 mm), Officer's ACP model: 3.5 in (89 mm)
  • Cartridge : .45 ACP (11.43 mm)
  • Action : Short recoil operation
  • Muzzle velocity : 825 ft/s (251 m/s)
  • Feed system : 7-round standard detachable box magazine






.

Minggu, 15 Februari 2015

Taktik Perang Parit




Perang parit adalah jenis perang yang ditandai dengan pembentukan zona defensif berbentuk parit, dengan kedua belah pihak menempati parit untuk tujuan mempertahankan posisi defensif.

Jenis peperangan seperti ini sering menghasilkan kemajuan yang lambat, dengan masing-masing pihak berusaha menguasai parit lawan agar memiliki keunggulan ofensif.

Perang parit terkenal brutal dan mengerikan dan amat terkait dengan Perang Dunia I pada tahun 1914-1918.

Beberapa faktor berkontribusi pada kemunculan perang parit. Pertama adalah kemajuan luar biasa dalam persenjataan balistik yang membuat serangan frontal secara tradisional sulit dilakukan.




Selain itu, peningkatan akurasi senjata dan kemampuan artileri membuat serangan frontal (langsung berhadap-hadapan) bisa berubah menjadi tindakan bunuh diri. Kondisi ini lantas memicu pendekatan defensif yang menjadi karakteristik perang parit.

Perkembangan strategi pasokan logistik juga memberikan kontribusi. Pasokan dan perbekalan saat itu bisa dengan mudah dipasok oleh kereta atau truk dari garis belakang.

Dalam perang parit, kedua belah pihak membangun benteng yang melengkapi parit dengan berbagai cara termasuk menggunakan karung pasir, dinding, dan pagar kawat berduri.

Parit dirancang untuk memberikan perlindungan dari artileri. Setelah berlindung di parit, musuh akan sulit mengusir dan menguasainya, karena meskipun korban berjatuhan, bala bantuan dapat segera didatangkan dari garis belakang.

Daerah diantara parit yang diduduki oleh kedua belah pihak dikenal sebagai “tanah tak bertuan” atau “no man’s land” yang bisa digunakan sebagai area untuk mempersipkan serangan, meskipun tentara di tanah tak bertuan sangat rentan terhadap serangan dari sisi lain.

Di parit, kehidupan prajurit bisa amat mengerikan. Selama Perang Dunia I, mayat hanya dikubur dalam lubang dangkal di lantai atau dinding parit.




Kondisi ini menimbulkan bau menyengat yang bercampur dengan bau kakus darurat dan bau tubuh prajurit yang jarang mandi.

Persediaan makanan biasanya juga terbatas dengan tubuh tentara yang penuh kutu serta rentan terhadap infeksi serius.

Kondisi ini membuat banyak prajurit yang tewas di parit sebelum mereka sempat menembakkan peluru ke lawan.

Suasana di parit juga sangat menegangkan, dengan tentara yang mengalami serangan artileri musuh bertubi-tubi serta senjadi sasaran peluru sniper jika mereka berani menyembulkan kepala diatas parit.

Kondisi tersebut berkontribusi terhadap perkembangan masalah psikologis di antara tentara yang ditempatkan di parit.

Banyak satuan militer menanggapi masalah psikologis ini dengan regu tembak, yaitu memerintahkan tentara yang bermasalah dieksekusi karena dianggap pengecut dan melarikan diri dari medan perang.

Aksi militer di parit dapat dicapai dalam beberapa cara. Pasukan Jerman dalam Perang Dunia I terkenal menggunakan gas untuk membunuh atau melumpuhkan tentara musuh sebelum mereka berusaha menguasai parit lawan.




Artileri juga digunakan dalam upaya untuk menaklukkan pasukan musuh sebelum meluncurkan serangan langsung.

Kedua belah pihak menggunakan pula sniper dan tim komando kecil untuk meneror dan menyebarkan ketakutan pada pihak musuh.

Pada sebagian besar kejadian, berbagai upaya sering berakhir pada kebuntuan, dengan kedua pihak berhasil mempertahankan parit masing-masing sehingga tidak terjadi pergerakan di kedua arah.

Ketika satu pihak berhasil menduduki parit musuh, mereka mungkin menemukan diri mereka dalam jangkauan tembak musuh.

Meskipun berhasil merebut parit lawan, lawan yang terdesak biasanya hanya mundur sedikit untuk kemudian kembali bertahan di dalam parit.




Kebrutalan perang parit telah diabadikan dalam sejumlah film dan buku, termasuk buku oleh tentara yang berhasil selamat dari peperangan.

All Quiet in the Western Front dan Life in the Tomb adalah dua contoh novel tentang Perang Dunia I yang ditulis oleh para veteran yang selamat dari perang parit.








sumber: http://www.amazine.co/39642/apa-itu-perang-parit-sejarah-taktik-pd-i-kengeriannya/
.

Rabu, 11 Februari 2015

Christmas Truce, Gencatan Senjata di Malam Natal




Para prajurit di medan Perang Dunia I berhenti bertempur. Kedua belah pihak merayakan Natal bersama-sama, wilayah Ypres Belgia adalah medan pertempuran paling intens antara Jerman dan Sekutu yang dipimpin Inggris dan Perancis pada awal Perang Dunia I.

Serangkaian pertempuran yang terjadi pada 19 Oktober–22 November 1914 memakan puluhan ribu korban tewas, diikuti perang parit yang statis.

Peperangan berhenti pada malam Natal, 24 Desember. Prajurit Jerman dan Inggris mendekorasi parit masing-masing dengan pohon Natal dan menyanyikan lagu-lagu Natal. Suasana jadi bersahabat ketika mereka bertemu di wilayah tak bertuan (no man’s land), lahan kosong yang memisahkan antarparit.




“Tidak ada rasa benci sedikit pun dari kedua belah pihak. Dari pihak kami, tidak pula muncul keinginan untuk bertempur. Gencatan senjata Natal ini seperti jeda ronde sebuah pertarungan tinju yang bersahabat,” 


tutur Letnan Dua Bruce Bairnsfather dari resimen Royal Warwickshire, dikutip dari Meetings in No-Man’s Land karya Marc Ferro dkk.



Mereka bertegur sapa, bertukar hadiah dan kebahagiaan Natal. Hal serupa menyebar ke front pertempuran di wilayah lain. Momen ini didokumentasikan dalam surat dan catatan harian para prajurit di lapangan.




“Kami saling bertukar rokok, tanda tangan, dan beberapa orang bahkan berfoto bersama. Saya tidak tahu sampai kapan hal tersebut berlangsung, tapi sampai esok harinya kami tidak mendengar letusan tembakan sedikit pun,” 

tulis Kapten A.D. Charter dari batalyon Gordon Highlanders dalam surat-suratnya yang dipublikasikan Royal Mail, jasa pos nasional Britania Raya, dikutip dari independent.co.uk (24/12).

“Kami bahkan mengadakan gencatan senjata kembali untuk merayakan Tahun Baru, yang digunakan para prajurit Jerman untuk melihat hasil cetakan foto yang kami ambil sebelumnya!” tambah Charter.




Bahkan di beberapa wilayah gencatan senjata digunakan para prajurit untuk bertanding sepakbola. No man’s land yang biasanya suram untuk sesaat jadi ajang rekreasi. Seperti disaksikan Letnan Kurt Zehmisch dari resimen Saxony ke-134. “Prajurit-prajurit Inggris membawa bola sepak dari parit mereka, dan tak lama pertandingan seru terjadi.

Pemandangan ini sangat menakjubkan, juga aneh. Para opsir Inggris merasakan hal yang sama tentang ini. Natal, momen perayaan rasa cinta dan kasih sayang, mampu membuat musuh bebuyutan menjadi kawan untuk sementara, dalam catatan harian yang dipublikasikan pada tahun 1999.

Secara umum, momen gencatan senjata itu digunakan untuk menghentikan tembak-menembak, merawat prajurit terluka, mengevakuasi dan menguburkan mayat, sekaligus memperkuat pertahanan parit masing-masing.

Pers di negara-negara yang terlibat perang memuat banyak berita tentang gencatan senjata ini berdasarkan surat para prajurit yang dikirim ke keluarga mereka. Banyak pihak berharap perang akan segera usai.

Namun tidak semua prajurit dan opsir mendukung gencatan senjata Natal karena dianggap sebagai bentuk simpati terhadap musuh. Salah satu penentang ialah Adolf Hitler, yang saat itu berpangkat korporal di Divisi Ke-16 Bavarians.



“Hal tersebut tidak seharusnya terjadi di masa perang. Apa kalian orang-orang Jerman sudah tidak punya rasa hormat sama sekali?” 

kata Hitler, seperti dikutip Jim Murphy dalam Truce: The Day the Soldiers Stopped Fighting.



Gencatan senjata tidak lagi terjadi di Natal tahun berikutnya. Perang yang makin keras, seperti dimulainya penggunaan gas beracun (1915 M) dan brutalnya Pertempuran Somme dan Pertempuran Verdun (1916 M), menghilangkan rasa simpati antarprajurit. Sembilan juta prajurit dan tujuh juta rakyat sipil tewas di akhir perang; menjadikan Perang Dunia I sebagai salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah manusia.







sumber: http://historia.co.id/artikel/modern/1506/Majalah-Historia/Gencatan_Senjata_Natal
.

Sabtu, 07 Februari 2015

Howitzer



Howitzer adalah jenis senjata artileri yang digunakan untuk serangan darat. Howitzer memainkan peran penting dalam berbagai peperangan karena daya rusak yang kuat namun tetap fleksibel untuk dipindahkan sesuai keperluan.


Nama Howitzer berasal dari kata dalam bahasa Ceko houfnice (diturunkan dari bahasa Jerman: haubitze dan bahasa Belanda: houwitser), sebuah meriam dari abad ke-15 yang digunakan oleh suku Hussite dalam Perang Hussite (1419-1434 M) antara Kristen Protestan dan Katholik.




Howitzer modern pertama kali muncul pada akhir abad ke-17, ketika orang Swedia menggunakannya dalam pertempuran untuk menghancurkan benteng musuh.

Dibanding mortir dan meriam lainnya, howitzer dianggap lebih fleksibel karena dapat menembak dari berbagai sudut yang berbeda. Ini berarti howitzer dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan sehingga memberikan pasukan sebuah senjata kuat yang serba guna.

Pada pertengahan abad ke-19, howitzer berkembang secara substansial. Pada saat itu, howitzer mampu menembakkan baik cannonball maupun proyektil berbahan peledak sehingga senjata ini sering pula disebut sebagai ‘gun-howitzer’.

Howitzer juga dirancang lebih praktis sehingga mudah dipindahkan dan disiapkan dengan cepat. Field howitzer (howitzer lapangan) terus dirancang semakin besar sehingga mampu memusnahkan dinding perlindungan musuh dan halangan lain.

Saat Perang Dunia I, howitzer bahkan berkembang lebih jauh lagi dengan laras yang lebih besar, kecepatan yang lebih tinggi, dan kaliber lebih besar.

Senjata ini banyak digunakan dalam Perang Dunia I, terutama pada pertempuran parit. Howitzer digunakan untuk ‘membom’ parit pertahanan musuh untuk menciptakan kerusakan yang masif.



Ada berbagai jenis howitzer yang umumnya dibagi berdasarkan mobilitas mereka :


‘field howitzer’ merupakan jenis yang dapat dibawa dan dipindahkan sepanjang pertempuran oleh infanteri lapangan dengan bantuan semacam kereta.



‘Pack howitzer’ merupakan jenis howitzer yang bisa dibongkar kemudian dirakit kembali di tempat pertempuran.



‘Siege howitzer’ umumnya berukuran besar sehingga harus diangkut dengan helikopter dan kemudian dipasang semi permanen.



‘Self-propelled howitzer’ menyerupai tank karena terpasang pada kendaraan tempur dan kadang berupa lapis baja.






Howitzer yang terkenal dalam sejarah antara lain QF 25 pounder milik Inggris dari era Perang Dunia II, howitzer M198 dan M109 yang digunakan oleh Amerika Serikat pada akhir abad ke-20, dan howitzer G5 yang digunakan di Afrika Selatan selama tahun 1980.

QF 25 Pounder



M198 dan M109


Howitzer G5







sumber: 
  • http://www.amazine.co/17289/apa-itu-howitzer-sejarah-dan-jenis-howitzer/
  • en.wikipedia.org
.

Senin, 02 Februari 2015

Gas Mustard



Gas mustard adalah senjata kimia yang menyebabkan luka pada kulit dan saluran pernapasan. Senjata kimia ini lazim digunakan selama Perang Dunia I, sebelum akhirnya dilarang penggunaannya oleh Protokol Jenewa pada tahun 1925 M.


Juga dikenal sebagai sulfur mustard atau H, gas mustard adalah salah satu daftar dalam Konvensi Senjata Kimia tahun 1993 yang dilarang dalam hal produksi, penggunaan, penjualan, atau penimbunannya.




Meskipun disebut gas, senjata ini bukan gas, melainkan cairan kental yang mudah menguap. Uap gas mustard yang melayang di atas parit pada Perang Dunia I dihasilkan oleh cairan yang diaerosol, biasanya dijadikan sebagai proyektil yang ditembakkan.

Setelah teraerosol, sulfur mustard dapat bertahan selama beberapa hari di air dan tanah.

Gas mustard yang belum dimurnikan berbau seperti mustard atau bawang dan kadang-kadang memiliki warna kekuningan, sehingga menjelaskan nama dari senjata ini. Ketika dimurnikan, gas mustrad tidak berbau dan tidak berwarna, yang berpotensi bisa sangat berbahaya karena gejala akibat terpapar biasanya baru muncul dalam beberapa jam.

Ketika pengobatan dilakukan dengan cepat, pemulihan mungkin dilakukan; namun setelah beberapa jam paparan akan sulit membalikkan efek akibat senjata kimia ini.




Paparan gas mustard menyebabkan luka bakar khas pada kulit. Banyak korban dalam Perang Dunia I menjadi buta atau mengalami kerusakan penglihatan berat sebagai akibat dari paparan gas ini. Ketika dihirup, luka yang terjadi pada saluran pernapasan dapat menyebabkan kematian, biasanya setelah didahului penderitaan selama beberapa jam.

Gas mustard juga dikenal sebagai mutugen dan karsinogen, yang berarti bahwa setelah pemulihan, korban yang terkena masih berpotensi mengalami gangguan kesehatan.

Setelah mengalami paparan gas mustard, korban harus segera melepas pakaian yang dikenakan dan membasuh seluruh badan dengan air bersih.

Tidak ada obat penawar sehingga membilas tubuh secepat mungkin penting untuk membatasi cedera. Setelah tindakan dasar pertama tersebut, tindakan medis harus segera dilakukan untuk meminimalkan kerusakan pada tubuh.







sumber: http://www.amazine.co/39442/apa-itu-gas-mustard-fakta-sejarah-informasi-lainnya/
.

Minggu, 25 Januari 2015

Pesawat Zeppelin-Staaken E-4/20




Merupakan Pesawat Logam bermesin empat Revolusioner yang dirancang pada tahun 1917 M oleh Adolf Rohrbach dan di produksi pada tahun 1919 M oleh manufaktur Zeppelin-Staaken yang bekerja di luar Berlin, Ibukota Jerman. 



E-4/20 ini mungkin telah menjadi pesawat full-logam pertama yang pernah dibangun. Perusahaan Zeppelin saat itu lebih dikenal dengan produksi balon udara tempur nya. Namun, selama dan setelah Perang Dunia I perusahaan Zeppelin juga memproduksi sejumlah pesawat inovatif, termasuk pesawat kelas Heavy Bomber (pembom berat).




E-4 diuji terbang antara tahun 1920 dan 1922 ketika selesainya Kontrol Jerman oleh Komisi Sekutu. Dirancang oleh Adolf Rohrbach, E-4 mencakup berbagai inovasi, termasuk konstruksi full-logam, fasilitas onboard seperti toilet, dapur dan radio. jadi Zeppelin-Staaken E-4/20 adalah produk paling inovatif dari perusahaan Airship Zeppelin saat itu. 


Ferdinand von Zeppelin, pendiri Luftschiffbau Zeppelin GmbH (Airship Zeppelin Construction Co) sendiri adalah seorang inovator dunia penerbangan, Pada awal 1874 Zeppelin telah menulis sebuah makalah tentang prinsip-prinsip pembangunan balon dan fokus pada desain dan konstruksi zeppelin dari tahun 1880-an. Ia tertarik dalam pembangunan balon pertama dengan beberapa pionir lainnya termasuk David Schwarz, seorang Yahudi Austria, yang pada tahun 1892 dan 1896 M membangun airships berkulit aluminium pertama di Rusia dan kemudian untuk Tentara Prusia di Tempelhof, Berlin. 

Sampai beberapa tahun kemudian E-4 adalah teknik konstruksi pesawat yang berhasil dengan menggunakan prinsip yang pernah dikemukakan oleh David Schwarz.







Spesifikasi :

  • Crew: 3-5
  • Capacity: 12 - 18 passengers
  • Length: 16.6 m (54 ft 6 in)
  • Wingspan: 31.0 m (101 ft 8 in)
  • Height: ()
  • Wing area: 106 m2 (1,140 ft2)
  • Loaded weight: 8,500 kg (18,740 lb)
  • Powerplant: 4 × Maybach IVA inline piston engine, 190 kW (250 hp)

Performasi :
  • Maximum speed: 230 km/h (143 mph)
  • Cruise speed: 211 km/h (131 mph)
  • Range: 1,200 km (746 miles)
  • Wing loading: 16.2 lb/sq ft
  • Power/mass: 18 lb/hp



.

Jumat, 23 Januari 2015

Kapal Destroyer Yakov Sverdlov




Novík adalah kapal tempur kelas Destroyer milik Angkatan Laut Kekaisaran Rusia, ditugaskan pada tahun 1913 M di Armada Baltik selama Perang Dunia I. bergabung dengan Bolshevik pada November 1917 M dan kemudian berganti nama menjadi Yakov Sverdlov pada tahun 1923 M.

Novik selesai di konstruksi pada tahun 1910 M di Pabrik Putilovsky. Dia awalnya dirancang oleh AG Vulcan Stettin.




Novik adalah salah satu kapal terbaik dari jenis selama Perang Dunia I. kapal kelas destroyer pertama yang berbahan bakar minyak bukan batubara. Ketika pertama kali ditugaskan dia adalah kapal tercepat di dunia.

Pada 26 Oktober 1917 awak Novik bergabung dengan Bolshevik, meskipun tidak ada yang diketahui tentang kegiatan-kegiatannya, secara ekstensif dibangun kembali antara 26 September 1925 dan 30 Agustus 1929. Tabung torpedo kembar yang dibagian belakangnya dihapus, dipasangi senjata anti pesawat di bagian paling belakang geladak.

Dia pun dirombak antara 28 November 1937 dan 8 Desember 1940, bagaimanapun, ia di alih fungsikan sebagai kapal pelatihan pada tanggal 23 April 1940 sehari sebelum operasi Barbarossa.

Pada awal perang, ia dipindahkan ke Divisi Ketiga Armada Baltik. Selama evakuasi dari Angkatan Laut Soviet dari Tallinn Kronstadt selama Operasi Barbarossa, Yakov Sverdlov ditugaskan sebagai pendamping ke unggulan Kirov. Selama operasi, ia terkena ranjau dan tenggelam di dekat Cape Juminda pada tanggal 28 Agustus 1941 M.




Spesifikasi :
  • Displacement: 1,597 tonnes (1,572 long tons; 1,760 short tons)
  • Length: 102.4 m (335 ft 11 in)
  • Beam: 9.5 m (31 ft 2 in)
  • Draught: 3.5 m (11 ft 6 in)
  • Propulsion: 3 shaft AEG-Vulcan turbines
  • 6 Vulcan boilers
  • 40,000 shp (30,000 kW)
  • Speed: 32 knots (37 mph; 59 km/h)
  • Endurance: 1,800 nmi (3,330 km) at 12 knots (22 km/h)
  • Complement: 168 men
  • Sensors and
  • processing systems: Arktur (SPS) sonar, Gradus-K radio direction finder

Senjata : 
  • 4 × 1 - 102 mm (4.0 in) guns
  • 1 × 1 - 76.2 mm (3.00 in) AA gun
  • 3 × 3 - 450 mm (18 in) torpedo tubes
  • 50 mines




.


Minggu, 18 Januari 2015

Revolusi Industri di Eropa dan Pengaruhnya di Indonesia



Sebelum abad ke-18 sistem perekonomian masyarakat Eropa sangat bergantung pada sistem ekonomi agraris. Akan tetapi setelah memasuki abad ke-18 terjadi perubahan besar dalam pola hidup masyarakat Eropa. 



Perubahan tersebut ditunjukkan dengan mulai digunakannya tenaga mesin sebagai alat produksi di pabrik-pabrik menggantikan tenaga manusia dan hewan. Perubahan inilah yang disebut dengan Revolusi Industri. Sehingga Revolusi Industri dapat dikatakan sebagai suatu peristiwa yang mengubah sistem ekonomi agraris menjadi sistem ekonomi industri yang menggunakan tenaga mesin sebagai alat produksinya, menggantikan tenaga hewan dan manusia.

Sebelum dikenal alat-alat mekanis dan otomatis, masyarakat Eropa bekerja dengan menggunakan alat-alat manual (menggunakan tenaga manusia) dan masih mengandalkan kecepatan kedua tangan dan kaki. Artinya, alat-alat tersebut tidak akan berfungsi dan bekerja jika tidak ada tangan atau kaki. Peralatan yang dimaksud seperti cangkul, parang, sekop, gergaji, pisau, pengukur, palu, penenun, pemintal, pancung, jala, pendayung, dan lain-lain.

Pada masa revolusi industri, peralatan tersebut jarang digunakan sebab telah ditemukan mesin pemintal, mesin tenun, lokomotif, dan sebagainya. Semua mesin tersebut bukan digunakan oleh tangan dan kaki, tetapi oleh mesin uap. Dengan demikian, pada masa revolusi industri terjadi penghematan tenaga manusia. Setelah revolusi industri terjadi, perbedaan pola hidup masyarakat sangat terlihat sekali.




Latar Belakang Revolusi Industri

Revolusi Industri di kawasan benua Eropa bermula di negara Inggris. Kemudian pada awal abad ke-19, mulai menyebar ke negara-negara Eropa lainnya dan negara-negara di benua Amerika.

Adapun sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya revolusi industri tersebut adalah sebagai berikut:

1. Keamanan dalam negara Inggris yang mantap

Mantapnya kondisi keamanan negara Inggris pada sekitar abad ke-18, sehingga menjamin seluruh segi kehidupan masyarakat Inggris pada saat itu. Begitu pula dengan sistem ekonomi, masyarakat Inggris dengan tenang dan tanpa rasa takut menjalankan roda perekonomian mereka.



2. Mulai berkembangnya kegiatan kewiraswastaan dan manufaktur

Perkembangan masyarakat Eropa sebelum Revolusi Industri hidup dalam sistem perdagangan yang masih menggunakan uang dan sistem barter. Kegiatan-kegiatan produksi dilakukan di rumah-rumah atau kerajinan rumah (home industry). 

Di Perancis dikenal istilah "gilda", yaitu bengkel kerja dan pusat usaha. Setiap orang yang akan memesan barang-barang dapat menghubungi gilda. Alat-alat yang dihasilkan oleh gilda adalah alat rumah tangga, alat kerja pertanian, dan sebagainya. Gilda baru bekerja apabila ada pesanan.

Perkembangan selanjutnya dari gilda ini adalah munculnya minat yang luar biasa dai masyarakat Inggris terhadap tempat pengolahan yang lebih memadai seperti pabrik. Dari minat inilah, muncul kegiatan ekonomi manufaktur dimana para pekerja tidak lagi bekerja di rumah-rumah melainkan ditempat-tempat khusus yang disediakan pengusaha sebagai tempat produksi.



3. Inggris memiliki kekayaan alam terutama batu bara dan bijih besi

Kekayaan SDA Inggris seperti banyak ditemukannya batu bara dan bijih besi, telah membantu Inggris dalam mengembangkan industrinya karena batu bara dan bijih besi sangat diperlukan dalam proses produksi. Batu bara dijadikan sebagai bahan bakar mesin-mesin dan bijih besi diperlukan untuk industri berat. Kekayaan alam tersebut ditunjang oleh kemampuan dan keinginan manusianya.

Orang Inggris terkenal sebagai orang yang rajin dan tekun dalam penelitian alam. Kemauan dan keuletan warga Inggris itu, didukung oleh adanya lembaga penelitian bernama The Royal for Improving Natural Knowladge yang didirikan oleh pemerintah Inggris tahun 1662 dan The French Academy of Science yang didirikan tahun 1666. Kedua lembaga tersebut mensponsori kegiatan-kegiatan eksplorasi alam, sehingga dengan adanya lembaga-lembaga ini telah mendorong tejadinya penemuan-penemuan baru di kemudian hari.



4. Inggris memiliki banyak daerah jajahan

Kerajaan Inggris pada abad ke-18 memiliki banyak daerah jajahan yang tersebar di benua Afrika dan Asia. Daerah-daerah jajahan inilah yang mendukung kegiatan industri Inggris, karena daerah-daerah jajahan tersebut dapat menyediakan bahan baku yang diperlukan oleh industri Inggris. Selain itu, daerah-daerah jajahan tersebut dapat dijadikan sebagai tempat pemasaran hasil industri Inggris.



5. Terjadinya Revolusi Agraria

Kondisi masyarakat Inggris yang dilanda gejolak turut melatarbelakangi revolusi industri di negara tersebut. Gejolak yang dimaksud adalah Revolusi Agraria (pertanian).

Revolusi agraria ini disebabkan oleh berkembangnya kerajinan pakaian wol, yang dengan sendirinya meningkatkan permintaan bulu domba. Dari hal itu, usaha di bidang wol menjadi sangat menarik, maka tanah pertanian diubah menjadi peternakan domba.

Untuk keperluan peternakan domba tersebut, tanah para bangsawan yang tersebar letaknya dikumpulkan dengan cara ditukar-tukar dengan tanah milik petani. Tanah yang berupa tanah padang rumput itu dipagari dan digunakan sebaai penggembalaan domba. Perubahan fungsi tanah menjadi lahan peternakan pun disebabkan harga gandum yang turun.

Perubahan tersebut mempunyai dampak terhadap para petani. Sebelumnya, pada saat tanah pertanian masih diusahakan mereka bekerja sebagai petani penyewa. Sebab tanah di Inggris pada dasarnya adalah milik raja dan bangsawan.Sejak tanah itu diubah menjadi lahan peternakan jumlah pekerja yang dibutuhkan relatif sedikit. 

Akibatnya, banyak para petani beralih kerja sebagai pekerja di tambang batu bara dan pabrik-pabrik tekstil. Ada pula yang pergi ke kota yang mencari kerja disana. Namun, lapangan kerja terbatas dan akhirnya muncul gelandangan. Munculnya gelandangan menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah. Pada saat perkembangan industri sangat pesat di perkotaan, pemerintah dapat menanggulangi masalah gelandangan degan menjadikan sebagai buruh.



6. Munculnya paham ekonomi liberal

Kegiatan lain yang mendorong lahirnya Revolusi Industri adalah kegiatan perekonomian. Sejak abad ke-17, dunia pelayaran dan perdagangan di Inggris. berkembang pesat. 

Perkembangan itu dibuktikan oleh banyaknya kongsi-kongsi dagang, seperti EIC(East India Company), Virginia Co., Plymouth Co., Massachusets Bay Co., dan lain-lain. Para kongsi dagang banyak memperoleh keuntungan dari penanaman modalnya di Inggris dan daerah lain. Sebagian besar dari keuntungannya itu ditabung di bank, sehingga secara keseluruhan aktivitas mereka memberi kesejahteraan bagi Kerajaan Inggris.

Gejolak dalam masyarakat lainnya adalah munculnya paham ekonomi liberal. Tokoh-tokoh yang mengembangkan paham ini adalah Adam Smith, Thomas Robert Malthus, David Ricardo, dan John Sturart Mill. Paham ekonomi liberal muncul sebagai reaksi terhadap paham ekonom merkantilisme yang melahirkan sistem ekonomi yang diatur oleh pemerntah.

Para pencetus gagasan ekonomi liberal menyatakan kemakmuran rakyat akan cepat tercapai apabila rakyat dibebaskan untuk melakukan kegiatan ekonomi. Lahirnya paham ekonomi liberal di Inggris memantapkan persiapan masyarakat menuju suatu zaman industri. Artinya, paham ekonomi liberal memberi peluang bagi perkembangan industri-industri baru di Inggris.



7. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Sejak awal abad ke-16, Inggris mulai memasuki abad pemkiran yang mengakibatkan munculnya ilmuwan-ilmuwan terkemuka dalam berbagai bidang pengetahuan dan teknologi. Bersama dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan baru tersebut, muncul pula ide-ide baru.
Ide dan gagasan bau tersebut mendorong terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan yang didasarkan atas ide dan gagasan baru tersebut, muncul pula penemuan-penemuan baru yang dapat memperingan segala jenis pekerjaan manusia. Dengan temuan-temuan baru inilah Revolusi Industri dimulai.




Jalannya Revolusi Industri

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Inggris sangat maju karena didukung oleh faktor keamanan dan politik Inggris.

Faktor penentu lain adalah penemuan yang dilakukan oleh:

1. Abraham Darby (seorang insinyur berkebangsaan Inggris) yang berhasil menggunakan batu bara (coke) untuk melelehkan besi dan mendapatkan nilai besi yang lebih sempurna. Juga penemuan mesin uap oleh James Watt (insinyur berkebangsaan Skotlandia) pada tahun 1763.


2. Isaac Merrit Singer dari Amerika Serikat berhasil memperbaiki sebuah mesin jahit rusak dan membuat model yang lebih baik. Ia kemudian mendirikan sebuah industri yang bernama I.M Singer and Company. Dalam tahun 1860, perusahaan ini merupakan mesin jahit terbesar di dunia. Para Penemu dan Hasil Temuannya, Penemuan besar yang merupakan awal peradaban modern menonjol pada mesin tenun dan kain.


3. Blaise Pascal (seorang filsuf dan ahli matematika berkebangsaan Perancis) menemukan mesin hitung pada tahun 1642. Penemuan besar lainnya adalah penemuan mesin cetak.


4. James Watt adalah Bapak Revolusi Industri. Modernisasi kehidupan mendapat arah baru ketika pada tahun 1796 ia memperkenalkan mesin uapnya yang menggunakan kondensor.


5. George Stephenson membuat lokomotif yang pertama kali dikendarai pada jalur yang menghubungkan Liverpool ke Manchester pada tahun 1830. Lokomotif ciptaannya diberi nama Rocket.


6. Nicholas Joseph Cugnot (Perancis) dan Gottlieb Daimler (Jerman) berhasil memperkenalkan mobil yang digerakan dengan tenaga uap.


7. Henry Ford dari Amerika Serikat membangun pabrik mobil di Detroit pada tahun 1876. Perusahaan itu diberi nama Ford Motor Company.



Penemuan-penemuan di atas didukung pula oleh penemuan para pakar di bidang kimia. Di antaranya adalah Charles Goodyear dari Amerika Serikat yang menemukan cara memvulkanisir karet campuran dengan belerang, agar karet menjadi keras.

Setelah berjalan satu abad, sekitar tahun 1860, Revolusi Industri memasuki fase baru yang berbeda dari apa yang sudah lalu, yang dikenal sebagai Revolusi Industri tahap kedua. Kejadian-kejadian yang terjadi pada periode itu terutama ada tiga hal : perkembangan proses Bessemer dalam membikin baja pada tahun 1856; penyempurnaan dinamo kira-kira pada tahun 1873; dan penciptaan mesin pembakaran di dalam pada tahun 1876. Ia adalah pelopor dan organisator perusahaan kereta api penumpang.


Perbedaan antara Revolusi Industri tahap kedua ini dibanding tahap pertama adalah:

1. adanya penggantian baja ditempat besi sebagai bahan industri pokok
2. penggantian batu arang dengan gas dan minyak sebagai sumber pokok tenaga dan penggunaan listrik sebagai bentuk pokok tenaga industry
3. perkembangan mesin otomatis dan peningkatan yang tinggi spesialisasi buruh
4. penggunaan campuran dan metal yang ringan dan hasil industri kimia
5. perubahan radikal dalam transportasi dan komunikasi
6. pertumbuhan bentuk-bentuk baru organisasi kapitalis
7. tersiarnya industrialisasi di Eropa Tengah dan Timur dan bahkan di Timur Jauh.




Akibat Revolusi Industri

Revolusi Industri membawa akibat yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan manusia, seperti: 

1. Munculnya industri secara besar-besaran.
2. Timbulnya golongan borjuis dan golongan buruh. Pertentangan antara kedua golongan tersebut menimbulkan sosialisme dan kemudian komunisme.
3. Terjadinya urbanisasi, di mana penduduk daerah pertanian berduyun-duyun pindah ke kota-kota industri untuk bekerja sebagai buruh perusahaan sehingga lahan pertanian menjadi kosong, sedangkan daerah industri sangat padat pendudukannya.
4. Timbulnya kapitalisme modern. Kapitalisme adalah susunan ekonomi yang berpusat pada keberuntungan perseorangan, di mana uang memegang peranan yang sangat penting.
5. Barang-barang konsumsi menjadi berlimpah dan dapat dibeli dengan harga murah sebab dengan mesin industri barang-barang dapat tercetak dengan mudah sehingga harganya lebih murah.




Dampak Revolusi Industri bagi Indonesia

Revolusi Industri sebagai salah satu revolusi penting dunia juga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap Indonesia. Secara garis besar Revolusi Industri memiliki pengaruh yang positif dan negatif. Antara keduanya saling berhubungan satu sama lainnya. Berikut ini adalah dampak Revolusi Industri terhadap perkembangan sejarah Indonesia.


1. Dalam Bidang Politik


Betapapun Revolusi Industri tidak terjadi di Belanda, namun sebagai negara yang memiliki kesamaan karakter, Belanda menjadi pengikut revolusi juga. Imbas terhadap Indonesia sebagai negara jajahan Belanda adalah lahirnya imperialisme modern di Indonesia yang diusung oleh Belanda. Selain itu, Inggris sebagai lokomotif imperialisme modern memiliki kepentingan tersendiri dengan wilayah Indonesia yang benar-benar kaya sumber daya alam. Peralatan-peralatan yang ditemukan di Inggris membutuhkan begitu banyak bahan untuk diolah. 

Inggris sebagai negara dengan kekuatan imperialisme yang besar ternyata berseteru dengan pihak Belanda, sampai akhirnya peperangan yang terjadi antara Prancis dan Inggris dimenangkan oleh Inggris. Secara langsung Indonesia diserahkan kepada Inggris. Dalam sejarah kolonialisme Indonesia, kita mengenal Thomas Stamford Raffles yang merupakan utusan Inggris untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Untuk empat tahun Indonesia dipimpin oleh imperialisme Inggris. 

Sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa, khususnya Belanda ke Indonesia telah membawa perubahan yang sangat signifikan. Pola perdagangan monopoli yang dipraktekkan oleh VOC (kolonial Belanda) menjadikan tersentralisasinya kekuasaan di tangan penguasa asing. Imbas terbesar bagi para penguasa pribumi (raja/sultan) adalah hilangnya hak kekuasaan sebagai penguasa lokal. Karena mereka dijadikan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pegawai negeri yang mendapat gaji dari pemerintah kolonial. Padahal menurut aturan adat, penguasa pribumi mendapat upeti langsung dari rakyat. 

Hal ini terjadi setelah para penguasa-penguasa pribumi tidak mampu mempertahankan wilayah kekuasaannya dari penetrasi orang-orang Eropa yang berupaya menguasai wilayah-wilayah di Indonesia untuk menjalankan politik dagang monopolinya. Pada akhirnya, dengan diterapkannya sistem pemerintahan baru (pemerintahan kolonial), para raja/sultan semakin kehilangan peranannya dalam mengatur kebijakan politiknya, sedangkan pemerintahan kolonial semakin kuat.




2. Dalam Bidang Ekonomi dan Industrialisasi


Salah satu akibat dari munculnya Revolusi Industri adalah munculnya praktik kapitalisme dalam hal ekonomi. Ideologi kapitalisme berpendapat bahwa untuk meningkatkan pendapatan perlu ditunjang dengan jumlah modal atau kapital yang banyak, penguasaan sektor produksi, sumber bahan baku dan ditribusi. 

Indonesia atau pada saat itu bernama Hindia Belanda memiliki sumber daya alam yang hasilnya sangat laku di pasaran dunia. Penemuan-penemuan teknologi baru telah mengantarkan wilayah Hindia Belanda menjadi incaran negara-negara maju dalam teknologi tersebut. Akhirnya perekonomian rakyat diperas, tetapi pemerintahan tidak pernah mampu memberikan kesejahteraan tersendiri untuk Indonesia. 

Indonesia menjadi lahan baru untuk para kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan. Imperialisme modern telah mampu mengeruk ekonomi Indonesia dengan keuntungan yang gilang gemilang di tangan para imperialis, sementara rakyat menjadi kuli di rumahnya sendiri. Bangsa Indonesia sempat dikenalkan dengan beberapa sistem perekonomian dari dunia Barat, namun kerugian yang diderita oleh Indonesia jauh lebih besar ketimbang keuntungan yang dihasilkan. Perubahan mendasar terjadi ketika Indonesia mengalami masa sistem ekonomi liberal dan tanam paksa. 

Pada era ini rakyat diharuskan melakukan kegiatan ekonomi berupa pengolahan perkebunan yang cenderung hanya memperhatikan pada kebutuhan orang-orang Eropa saja, sedangkan kebutuhan rakyat pribumi, seperti pertanian, menjadi terabaikan. Pada masa pemerintahan Raffles, dengan politik sewa tanahnya yang diilhami dari pengaruh paham liberal, rakyat Indonesia belum paham sepenuhya dengan sistem ekonomi uang. Sehingga sistem land rente dianggap mengalami kegagalan, karena rakyat masih terbiasa dengan sistem ekonomi tertutup, dimana pembayaran pajak belum sepenuhnya dengan uang tetapi in natura. Faktor utama lainnya yang dianggap sebagai biang kegagalan liberalisasi ekonomi Indonesia adalah masih kuatnya praktik budaya feodalisme. 

Setelah Indonesia kembali menjadi jajahan Belanda, di bawah pengawasan Gubernur Jenderal van Den Bosch yang beraliran konservatif, diterapkan sistem tanam paksa yang bertentangan dengan sistem sewa tanah sebelumnya. Hal ini, menurut van Den Bosch, dikarenakan kondisi realitas Indonesia yang bersifat agraris, seperti halnya keadaan negara induk (Belanda) yang juga masih bersifat agraris. Walaupun keadaan di Eropa, rentang waktu 1800–1830, sedang muncul pertentangan pemikiran, antara liberalis dan konservatis telah mengakibatkan kegamangan dalam pelaksanaan pemerintahan di negara jajahan. 

Tetapi satu hal yang perlu dipahami, baik konservatif yang akan meneruskan sistem politik VOC atau liberalis yang ingin meningkatkan taraf hidup rakyat, dalam tujuannya sama-sama menginginkan daerah jajahan perlu memberi keuntungan bagi negeri induk. Keadaan ekonomi rakyat Indonesia semakin parah, seiring dengan diberlakukannya kebijakan Politik Pintu Terbuka. Hal ini menjadikan jiwa-jiwa wirausaha semakin menghilang, karena para petani, pedagang yang kehilangan lapangan sumber mata pencahariannya beralih menjadi buruh di perusahaan-perusahaan swasta asing. 

Kondisi ekonomi bangsa Indonesia saat itu sangat menyedihkan. Hal itu dapat dilihat pada awal abad ke-20, diketahui bahwa penghasilan rata-rata sebuah keluarga di Pulau Jawa hanya 64 gulden setahun. Dengan penghasilan yang sangat sedikit itu, mereka harus melakukan berbagai kewajiban, antara lain untuk urusan desa. Hal itu menggambarkan betapa miskinnya rakyat Indonesia, padahal Indonesia memilki kekayaan alam yang melimpah. 

Selama masa tanam paksa, pemerintah Belanda memperoleh keuntungan ratusan juta gulden. Keuntungan yang diperoleh itu semuanya digunakan untuk membangun negeri Belanda. Tidak ada pemikiran untuk menggunakan sebagian keuntungan itu bagi kepentingan Indonesia. Kemiskinan yang diderita rata-rata rakyat Indonesia adalah akibat politik drainage (politik pengerukan kekayaan) yang dilakukan pemerintah Belanda untuk kepentingan negeri Belanda. 

Politik dranaige itu mencapai puncaknya pada masa tanam paksa (cultuur stelsel) dan kemudian dilanjutkan pada masa sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi liberal pun tidak meningkatkan taraf kehidupan rakyat. pada masa itu berkembang kapitalisme modern yang berlomba-lomba menanamkan modalnya di Indonesia, antara lain perkebunan raksasa. Pemerintah mengizinkan para pemilik modal menyewa tanah, termasuk tanah rakyat. Akibatnya, lahan untuk pertanian rakyat berkurang. Sebagian besar petani terpaksa menjadi buruh di pabrik atau perkebunan dengan upah yang rendah. Pada sisi lain, perusahaan-perusahan pribumi mengalami kemunduran atau sama sekali gulung tikar sebab tidak mampu bersaing dengan modal raksasa. Pengusaha tekstil tradisional pun terpukul akibat membanjirnya tekstil yang diimpor dari Belanda. Para pengusaha pribumi juga dirugikan sebab pemerintah Belanda lebih banyak memberikan kemudahan kepada pedagang Cina.



3. Dalam bidang Iptek dan Budaya


Revolusi Industri lahir dengan latar belakang ilmu pengetahuan yang pekat. Ketika Indonesia dijajah oleh Inggris, maka hal itu pun sangat berpengaruh. Raffless yang dalam kesempatan tersebut menjadi gubernur jendral yang sangat perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan alam, maka salah satu bunga bangkai yang ditemukan di Bengkulu dinamai dengan bunga Raflesia Arnoldi. 

Bahkan, Kebun Raya Bogor juga merupakan itikad dari istri Raffles. Dalam hal ilmu perbintangan, di Bandung didirikan pula tempat obsevasi yang didirikan Van den Bosch. Seiring dengan munculnya hubungan Hindia Belanda dengan Inggris, maka sedikit demi sedikit masyarakat Indonesia dikenalkan juga dengan kemajuan teknologi tersebut. Penjajahan Indonesia yang sempat kembali ke tangan Belanda menghentikan kemajuan tersebut, namun dalam perkembangan kontemporer, pengaruh Revolusi Industri sangat terlihat dan terasa.



4. Dalam Bidang Sosial


Industrialisasi sejak semula sangat berkaitan dengan masalahmasalah sosial-kemasyarakatan. Adanya perbedaan pendapatan ekonomi cenderung membuat manusia mengukur segala sesuatu dengan mahal-murahnya harga sesuatu. Dengan perbedaan tersebut, muncullah diskriminasi sosial yang tidak manusiawi. Selain itu, ada pula dampak positif dari Revolusi Industri ini, yaitu dibukanya jalur transportasi darat yang baru rel kereta api guna mempercepat proses mobilisasi dan penyampaian informasikomunikasi.

a. Diskriminasi Sosial

Dalam bidang sosial terjadi perbedaan yang mencolok antara golongan Barat atau Belanda dengan golongan pribumi. Dalam bidang pemerintahan juga terjadi diskriminasi, pembagian kerja dan pembagian kekuasaan didasarkan pada warna kulit. Orang pribumi yang mendapatkan jabatan pastilah jabatan rendah dan dibatasi kekuasaannya. Diskriminasi juga terjadi di kalangan militer. Untuk pangkat yang sama, gaji orang Indonesia yang berdinas dalam militer Belanda lebih rendah daripada gaji anggota militer Belanda. 

Bahkan diadakan pula perbedaan gaji antara serdadu Ambon dan serdadu Jawa. Diskriminasi berlaku juga di tempat hiburan. Ada tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang Indonesia, seperti tempat pemandian, restoran bahkan pada angkutan umum, seperti kereta api lintas-kota atau trem (kereta api dalam kota). 

Rupanya para penggagas Politik Etis hendak menciptakan hubungan yang harmonis antara Belanda dan golongan pribumi, namun kesamaan pandangan yang diharapkan ternyata tak berbuah seperti yang diharapkan. Orang-orang Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan dari Belanda, semakin menyadari tentang arti penting kemerdekaan yang pada akhirnya mereka menjadi pemuda-pemuda pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa diskriminasi berdasarkan ras menjadi salah satu faktor lahirnya pergerakan nasional.



b. Dibangunnya Jalur Transportasi Darat


Revolusi Industri secara tidak langsung berdampak pula dalam hal transportasi di Indonesia, terutama darat. Untuk mempermudah mobilitas penduduk dan perdagangan, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan guna mempercepat hubungan komunikasi dan dagang. 

Untuk daerah pegunungan yang banyak terdapat perkebunan (misalnya di Jawa Barat), dibangun khusus jalur kereta api untuk mengangkut hasil bumi ke kawasan pabrik guna diolah menjadi bahan setengah jadi atau jadi. Sesungguhnya jalur darat telah dibuka sejak masa Daendels memerintah Jawa, yaitu dengan dibukanya rute baru: Anyer- Panarukan yang membelah Pulau Jawa pada awal abad ke-19. 

Dengan tujuan semula untuk mempercepat proses informasikomunikasi antarkantor pos, maka Jalan Raya Pos (The Grote Postweg) ini pada masa selanjutnya berguna pula untuk jalur mobilitas penduduk yang ingin ke luar kota atau pulau.



c. Mobilitas Penduduk dan Masalah Demografi


Industrialisasi mengakibatkan perpindahan penduduk dari desa ke kota-kota besar. Berdirinya pabrik-pabrik telah mendorong kehidupan baru dalam masyarakat Indonesai yang sebelumnya masyarakat agraris dan maritim. Terbentuklah komunitas pekerja kasar dan buruh yang bekerja di pabrik-pabrik partikelir (swasta). 

Kota-kota besar, terutama Jakarta dan Surabaya, merupakan tempat tujuan orang-orang untuk mengadu nasib. Untuk mendapatkan pegawai-pegawai semacam juru ketik atau tulis yang murah maka pemerintah kolonial membangun sekolah-sekolah kejuruan guna menghasilkan tenaga-tenaga ahli dari pribumi yang tentunya jauh lebih murah honornya bila dibandingkan tenaga ahli dari Eropa. 

Tenaga tulis/ketik tersebut selain dipekerjakan di instansi pemerintahan, juga dipekerjakan pegawai rendah di perkebunan pemerintah. Pada masa pelaksanaan ekonomi liberal sekolah didirikan untuk tujuan yang sama. Pada 1851, didirikan sekolah dokter pertama di Jawa yang sebenarnya merupakan sekolah untuk mendidik mantri cacar atau kolera. Maklum kala itu kedua penyakit tersebut sering menjadi wabah di beberapa daerah. Sekolah “mantri” tersebut kemudian berkembang menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandse Artsen) atau sekolah dokter pribumi. 

Munculnya sekolah-sekolah ala Eropa di Jawa, khususnya Batavia dan Bandung, menggiring orang-orang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan tempat-tempat lainnya berdatangan ke Jawa. Orang-orang di Jawa pun, terutama anakanak priyayi dan bangsawan atau pedagang kaya yang memiliki biaya lebih, berbondong-bondong datang ke Jakarta dan Bandung yang saat itu memiliki sekolah setingkat perguruan tinggi (THS dan STOVIA). Perpindahan atau mobilitas kaum terpelajar tersebut tentunya sangat memengaruhi populasi kota. Perubahan demografis cukup mecengangkan.







sumber: http://www.idsejarah.net/2014/01/revolusi-industri-di-eropa.html
.

Sabtu, 17 Januari 2015

Semua Hal tentang Red Baron

Semua orang yang hidup di masa Perang Dunia I pasti mengenal dia. Ia adalah seorang penerbang jagoan di Angkatan Udara Kerajaan Jerman dengan sederet prestasi yang membanggakan bagi bangsanya sekaligus menakutkan bagi musuh-musuhnya.

Nama lengkapnya Baron Manfred von Richthofen. Gelar Baron adalah sebuah gelar kebangsawanan yang dianugrahkan pemerintah Jerman kepadanya. Namun dikalangan masyarakat ia lebih dikenal sebagai Red Baron karena selalu memakai pesawat andalan Fokker Dr I Triplane, pesawat tempur bersayap susun tiga yang berwarna merah menyala.





Masa Kecil Manfred von Richthofen
Mungkin anda pernah mendengar nama diatas, bagi seorang Ace (julukan untuk pilot penempur) nama diatas mungkin sudah tidak asing lagi. Pilot tempur paling terkenal di masa PD I, tidak lain adalah Manfred von Richthofen a.k.a “Red Baron” diambil dari tampilan pesawat tempurnya yang dicat serba merah. Seorang hebat yang lahir di Kleinburg dekat Breslau, Jerman (menjadi kota Polandia setelah PD I), tanggal 2 Mei 1892 dari keluarga ninggrat Prussia. Semasa mudanya ia gemar berkuda dan berburu serta olahraga. Saat berusia sembilan tahun, keluarganya pindah ke Schweidnitz dimana di kelasnya, von Richthofen sangat menonjol dan meraih sejumlah penghargaan. Bersama saudara laki-lakinya, Lothar (di kemudian hari menjadi ace dengan 40 victories) dan Bolko, Manfred gemar berburu babi hutan rusa, burung dan kijang. Kegemaran berburu inilah rupanya yang menjadikannya mahir menembak jatuh pesawat musuh dikemudian hari.
Dalam usia sangat muda, 11 tahun, von Richthofen sudah mengikuti pendidikan kadet militer, begitu selesai pendidikan pada tahun 1911, bergabung dengan Ulanen-Regiment Kaiser Alexanders des II von Russland. Singkat cerita pilot muda bersemangat tinggi ini masih bertugas di Front Timur saat Agustus 1916 bertemu dengan pilot tempur Oswald Boelcke yang sedang mencari calon pilot untuk mengisi unit tempur baru.
Begitu berjumpa dengan Manfred von Richthofen, langsung direkrutnya untuk bergabung dalam Jagdstaffel (Skadron Tempur) baru, Jasta 2. Dalam unit tempur inilah, von Richthofen memenangkan kombat udara pertamanya di atas Cambrai, Perancis 17 September 1916.


Karir Awal Manfred von Richthofen
Pada karir awalnya di Angkatan Udara, Manfred kembali bertugas sebagai tim reconn. Sebagai observerdi pesawat two-seater, ia tidak menjadi pilot, melainkan menangani bom dan senapan mesin. Tapi kemudian ia berlatih menjadi pilot, bergabung dengan skuadron Boelcke sebagai pilot tempur solo, dan belakangan memimpin suadron sendiri (Jagdstaffel alias Jasta 11). Dan… tentu saja sisa hidup selanjutnya menjadi legenda.
Membaca kisah Manfred von Richthofen dari sudut pandang dan pemikiran pribadinya ini mengasyikkan. Meskipun pada saat itu pihak lawan menjulukinya “Le Diable Rouge” atau “Red Devil” alias Setan Merah (sama sekali tidak ada hubungannya dengan Manchester United) karena kepiawaiannya di angkasa, kita tahu kalau dia manusia biasa. Manusia biasa yang melakukan hal-hal luar biasa, tentu saja. Dan karena penuturannya tentang hal-hal yang dialaminya selama perang, seburuk apapun, selalu dipandang dari sudut yang positif, sehingga kisah perang yang dialaminya terasa bagaikan petualangan yang seru dan mendebarkan. Pembaca seolah menonton film perang dengan Von Richthofen sebagai tokoh utama, mendukung apapun keputusan yang dibuatnya, dan lupa berpikir dari sudut lawannya yang jadi korban.
Bagi Manfred von Richthofen, berperang dan bertempur itu fun! Tidak peduli di darat ataupun di udara. Sebagai seorang pemburu sejati, (iya, ia masih sempat-sempatnya berburu babi dan bison di masa perang), menjadi pilot pesawat tempur jelas pekerjaan ideal: menyalurkan hobi sambil tetap mengabdi pada negara. Memburu skuadron lawan, dog-fight satu lawan satu, atau satu lawan banyak sekalipun, menembak jatuh minimal satu pesawat musuh setiap kali terbang, benar-benar mengasyikkan. Ia mengakui bahwa sebagai pilot pada awalnya ia lebih sebagai hunter ketimbang shooter. Ia merasakan kepuasan setiap kali berhasil menembak jatuh lawannya. Seorang shooter lebih klinis, apabila berhasil menembak jatuh lawan, ia tidak merasakan emosi yang berlebihan, dan langsung beralih pada lawan berikutnya. Hm, kalau von Richthofen hidup di masa sekarang, mungkin ia bisa menyalurkan hobinya dengan bermain video games, tanpa benar-benar membunuh makhluk bernyawa.
Kenapa Manfred von Richthofen dijuluki Red Baron? Pertama, ia seorang Freiherr yang tidak ada gelar padanannya di Inggris, tapi kira-kira setingkat gelar baron. Kedua, ia mengecat pesawat Fokkertriplane-nya dengan warna merah menyala. Benar-benar mencolok, seolah menunjukkan dirinya dan menantang semua orang “Come and get me!”, persis seperti warna armor Iron Man atau jacket Rita Vrataski di All You Need Is Kill. Pokoknya kelihatan banget dari jauh, dan membuat lawan sempat lempar koin dulu sebelum memutuskan untuk memburu atau menghindarinya.
Kok sombong banget sih, di saat orang lain berusaha terbang diam-diam tanpa ketahuan? Menurut cerita adiknya, Lothar, yang juga merupakan anak buah dan wingman-nya, pada awal karir sebagai pilot tempur Manfred merasa terganggu karena ia merasa terlalu mudah dilihat oleh lawannya dalam pertempuran udara, dan sudah berusaha menggunakan berbagai macam warna untuk penyamaran, tapi kamuflase tidak ada gunanya untuk benda bergerak seperti pesawat. Akhirnya, supaya mudah dikenali oleh rekan-rekannya di udara, ia memilih warna merah menyala.

Pada awalnya hanya Manfred sendirian yang menggunakan pesawat berwarna merah. Awalnya ia dijuluki “Le petit rouge“, dan pernah dikira “Joan of Arc” atau wanita sekaliber itu karena warna merah identik dengan wanita. Tapi segera semua orang tahu siapa yang duduk di dalam pesawat merah. Setiap kehadirannya dapat langsung meningkatkan semangat pasukan darat dan mengendurkan semangat pasukan lawan. Demi melindungi Manfred yang terlalu mencolok itulah, para anggota skuadronnya memutuskan untuk ikut mengecat merah pesawat mereka juga. Untungnya, kepiawaian tempur mereka membuktikan bahwa mereka juga pantas mengenakan simbol yang sama dengan pemimpin mereka.
Korban Manfred kebanyakan penerbang Inggris, dan ia memang lebih suka menghadapi orang Inggris. Baginya, penerbang Prancis pengecut, karena lebih memilih kabur kalau bertemu dengannya. Penerbang Inggris umumnya berani menantangnya atau menerima tantangannya. Kalau dipikir-pikir, antara pintar dan pengecut atau berani dan bodoh itu memang tipis bedanya. Kalau sudah tahu lawan yang dihadapi adalah the Red Baron, memangnya salah kalau memilih kabur?

Karena itulah Inggris sampai membentuk skuadron khusus dengan tujuan utama menghancurkan Manfred von Richthofen. Pilot yang berhasil menembak jatuh atau menangkapnya akan mendapat Victoria Cross, promosi, pesawat pribadi, 5.000 poundsterling, dan hadiah khusus dari pabrik pesawat yang digunakan si pilot. Bersama skuadron itu akan terbang juru kamera yang akan merekam seluruh kejadian dengan tujuan film propaganda British Army. Apa yang dipikirkan Manfred von Richthofen ketika membaca berita spesial itu benar-benar kocak!

Pada tanggal 6 Juli 1917, Manfred terluka dalam sebuah dog-fight. Deskripsinya tentang apa yang terjadi ketika kepalanya tertembak dan pesawatnya jatuh benar-benar membuat kita dapat merasakan berada di kokpit pesawat dan terluka bersamanya. Ia selamat dengan luka parah di kepala dan dadanya. Tapi, karena beberapa waktu sebelumnya adiknya Lothar juga terluka dan dirawat di rumah sakit, yang terpikir olehnya malah siapa di antara mereka yang bisa terbang lebih dulu. Dasar kompetitif!
Manfred von Richthofen menulis dan menerbitkan jurnal perangnya selama masa perawatan (berdasarkan instruksi bagian propaganda Angkatan Udara Jerman). Kalau sebelumnya ia sudah terkenal di kalangan militer baik di pihaknya sendiri maupun pihak lawan, kali ini ia mendadak jadi selebriti dan idola buat masyarakat kebanyakan, yang membanjirinya dengan surat penggemar. Bahkan London Times juga menulis review bukunya, padahal waktu itu perang belum berakhir.




Manfred von Richthofen
Lahir tanggal 2 Mei 1892 sebagai putra tertua dari tiga bersaudara memang tak terhindarkan sebagai seorang prajurit karena mengikuti tradisi keluarga bangsawan Prusia yang militeristik pada saat itu. Karir militernya dimulai saat menjadi perwira kaveleri 1st Regiment of Uhlan, April 1911. Saat perang parit dimulai setahun setelah perang dunia I meletus, kaveleri tidak begitu terpakai sehingga Richthofen memutuskan untuk pindah ke bagian dinas udara. Padahal ia tidak tahu menahu soal terbang bahkan mulanya sempat mengganggap remeh, tapi itu lebih baik daripada menjadi infanteri ! Mulai karir sebagai observer pada pesawat intai tanggal 10 Juni 1915 dan mulai merasakan bertempur tiga bulan kemudian dan berhasil menembak sebuah Farman Perancis walapun kemenangan ini tidak diakui karena jatuh diwilayah lawan.
Peristiwa inilah yang memacu Richthofen untuk belajar sebagai pilot yang akhirnya berhasil didapatkannya Maret 1916. Mimpinya adalah sebagai pemburu yang menembak jatuh lawan baru kesampaian saat diajak ace top dan guru strategi tempur udara Lt. Oswald Boelcke yang mengajak bergabung dalam skuadron tempur. Ia meraih kemenangan pertama tanggal 17 September 1916 atas pesawat pengintai FE 2b RAF(AU Inggris). Kemenangan demi kemenangan diperoleh sehingga ia menjadi ace top dan pahlawan nasional Jerman, apalagi setelah sang guru Oswald Boelcke tewas akibat kecelakan terbang. Pada saat itulah, seluruh pesawat tempur skuadron Jerman dicat warna-warni menyolok bak pemain sirkus yang bertujuan menciutkan nyali penerbang sekutu. Termasuk Richthofen yang memakai warna merah terang, terinspirasi dari warna seragam kaveleri Uhlan yang mengibarkan nama legendaris Red Baron dan Flying Circus.
Meskipun beberapa kali nyaris tertembak dan tewas dalam pertempuran udara, tidak pelak lagi kehadiran dan kemampuannya memimpin berhasil membuat takut dan kekalahan yang besar bagi armada udara sekutu April 1917 yang terkenal sebagai Bloody April. Tidak seperti pilot sekutu yang mengandalkan kemampuan individu, Richthofen unggul karena mengutamakan aksi tim / skuadron dan taktik hebat yang dikembangkan mendiang Boelcke yang sering disebut Boelcke Dicta.


Memang tidak ada yang abadi, Richthofen hanya manusia biasa yang dapat mati dan melakukan kesalahan. Ia terbang sendirian, terlalu jauh dan terlalu lama di wilayah musuh pada hari naas itu. Walaupun masih kontroversial apakan benar Roy Brown yang menembak jatuh atau akibat tembakan artileri tapi yang jelas merupakan pukulan berat bagi AU Kekaisaran Jerman. Walau dianggap musuh toh ia mendapat penghormatan militer layaknya seorang pahlawan.
Tanggal 19 November 1925, jenazah Richthofen dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan dengan pengiring Presiden Jerman sendiri yaitu von Hidenburg, sang ibu, dan adik Bolke Richthofen. The Red Baron dikubur tepat disamping sang ayah dan adik kedua, Lothar yang meninggal dunia akibat kecelakaan terbang tahun 1922. 


Bagi seluruh penerbang tempur dunia tahu kebesaran nama Richthofen dan jumlah kemenangannya yang merupakan ace top saat Perang Dunia I. Meskipun pada Perang Dunia II banyak pilot tempur yang meraih angka kemenangan jauh melebihi prestasinya tapi situasi jelas jauh berbeda pada saat itu dimana keterampilan terbang, tempur, dan insting lebih dominan dibanding keunggulan teknologi. Oleh karena itu tak pelak lagi Red Baron adalah “ACE TERBESAR SEPANJANG SEJARAH.”

Hari-Hari Terakhir Red Baron
Pagi hari yang berkabut tanggal 21 April 1918, Richthofen melangkah menuju hangar pesawat di Chappy. Sejak bergabung di AU Jerman ia sudah menunjukan keterampilannya sebagai pilot jagoan dan menjadi algojo udara bagi musuh-musuhnya penerbang Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada. Di zaman itu pertempuran udara tidak seperti saat sekarang yang berlangsung cepat dan terkadang kedua pesawat yang terlibat bahkan belum saling melihat lawannya. Pertempuran udara era Perang Dunia I tak ubahnya sebuah perkelahian buas, perjuangan hidup mati di angkasa. Masa hidup seorang penerbang rata-rata paling lama hanya 3 minggu sebelum akhirnya tewas ditembak jatuh lawannya.


Richthofen pun tahu itu tapi tampaknya musuhnya-lah yang harus gentar. Sebab bila Red Baron mengangkasa pasti ada beberapa pesawat lawan yang ditembak jatuh olehnya. Maka pagi itu seperti penerbangan sebelumnya.pria berumur 26 tahun itu kelihatan santai dan tenang. Rutin. Tak terlihat raut muka tegang seperti prajurit yang akan maju ke medan tempur.
Melangkah pelan sambil merapatkan jaket kulit penerbangnya dan di depan pintu hangar, seekor anak anjing lucu menarik perhatiannya. Ia berjongkok dan bermain-main dengan anak anjing itu. Seorang juru foto melihat kejadian unik itu berlari mendekat. “Tuan Richthofen,” katanya. Richthofen menoleh sambil tersenyum didepan lensa kamera. Ya, ia memang pahlawan besar dan selalu diincar wartawan. Prestasi luar biasa dengan menembak jatuh 80 pesawat musuh selalu menjadi pembicaraan hangat dan diberitakan lewat surat kabar ke seluruh dunia. Bahkan setahun yang lalu pada bulan yang sama, Manfred von Richthofen pernah menembak jatuh sebanyak 5 pesawat musuh hanya dalam satu hari saja !


Ada tahkyul yang beredar luas dikalangan penerbang bahwa pantang bagi pilot difoto sebelum berhasil melaksanakan tugas. Richthofen tak percaya tahkyul. Jika pantangan itu dilanggar niscaya nasib sial akan selalu membayangi. Namun dengan kebesaran nama Red Baron tak sebersit sedikitpun tentang kepercayaan itu.
Berikut perjalanan waktu keterlibatan The Red Baron dalam pertempuran udara :
  • September 1915
    Dalam tempur udara kedua (masih sebagai pengamat), Richthofen membuat jatuh sebuah pesawat Perancis. Tapi Richthofen tidak mencatatnya sebagai kemenangan.
  • 24 April 1916
    Richthofen pertama kali menerbangan pesawatnya sebagai seorang pilot. Dengan pesawatnya itu dia berhasil menembak jatuh sebuah Nieuport Perancis. Dan sekali lagi, kemenangan itu tidak tercatat dalam kemenangan tempur udaranya.
  • September 1916
    Saat menemui Oswald Boelcke, Richthofen ditugaskan di Front Barat. Richthofen mengawali karir sebagai penerbanga tempur dengan Jagdstaffel 2, pesawat terbang Albatros D. II dengan sayap ganda (biplane) . Meskipun Richthofen dikenang dunia sebagai Red Baron dengan pesawat tempur Fokker Dr.I bersayap tiga tingkat (triplane), tapi sebenar dia lebih lama menghabiskan sebagian besar waktu terbangnya dengan pesawat tempur Albatros D.II dan D.III.
  • 17 September 1916
    Skor kemenangan Richthofen udara pertama kali dikonfirmasi.
  • 23 November 1916
    Seorang penerbang tempur andalan Inggris, Mayor Lanoe Hawker, menjadi korban kesebelas Richthofen.
  • 4 Januari 1917
    Richthofen membukukan kemenangan pertempuran udaranya yang ke-16, sehingga membuatnya menjadi The Ace dari Jerman. Selanjutnya pada tanggal 12 Januari 1917, Richthofen menerima anugerah Pour Le Mérite (“Blue Max”) dan ditetapkan sebagai komandan Jasta 11. Sejak itu Richthofen memutuskan untuk mengecat pesawat tempurnya dengan warna merah dengan maksud agar mudah dikenali oleh sekutu-sekutunya pada saat dia sedang terbang. Richthofen mengatakan bahwa ia memilih warna merah karena warna resimen kavaleri Uhlan dimana dia mengawali karier militernya. Hal ini diikuti oleh para penerbang di skuadronnya yang menggunakan warna merah untuk menunjukkan solidaritas. Pada saat perang, beberapa pesawat Inggris menggunakan warna merah pada bagian hidung pesawat yang mengumumkan niat mereka untuk memburu The Red Baron.
  • 9 Maret 1917
    Richthofen ditembak jatuh di atas Oppy, tapi terbang lagi pada hari yang sama.
  • 7 April 1917
    Richthofen dipromosikan untuk Rittmeister.
  • 8 April 1917
    Sayap bawah Albatros D. III tidak bisa digerakkan untuk kedua kali saat diterbangkan oleh anggota lain Jasta III dalam sebuah penerbangan. Dengan marah Richthofen menulis surat ke Berlin. Dan hasilnya adalah kedatangan seorang desainer pesawat Anthony Fokker yang segera mengamati kendala pada sayap bagian bawah itu. Anthony Fokker telah mengamati Sopwith Triplane milik Inggris, dan ini membuatnya memutuskan untuk membangun Fokker Dr.I bersayap tiga tingkat (triplane) .
  • 29 April 1917.
    Richthofen menembak jatuh empat pesawat musuh dalam satu hari. Bulan tersebut juga dikenal sebagai “Bloody April”. Inggris telah kehilangan 912 pilot dan pengamat selama bulan April itu, sementara Richthofen mencetak 21 kemenangan yang luar biasa selama periode yang sama. Setelah kemenangan 41 nya, Richthofen diperintahkan cuti. Ia menghabiskan liburan dengan berburu di kota asalnya, dan juga bertemu dengan Kaiser Wilhelm.
  • 24 Juni 1917
    Jagdgeschwader 1 (Fighter Wing 1) dibentuk dan dibawah komando Manfred von Richthofen. Skuadron tempur ini kemudian diganti namanya menjadi “Jagdgeschwader Frieherr von Richthofen” untuk menghormatinya.
  • Juli 1917
    Richthofen ditembak jatuh oleh Capt Cunnel Douglas dan Lt. Albert Woodbridge. Meskipun selamat, tapi dia telah mengalami luka tembak serius di kepala. Dengan segera dia dipensiunkan dari pertempuran udara dan dilarang terbang kecuali benar-benar diperlukan. Richthofen mulai menghabiskan lebih banyak waktu di bagian administrasi dan bagian umum lainnya. Tapi akhirnya ia kembali ke medan pertempuran udara ketika para pemimpin Jerman menyadari bahwa mereka tidak memiliki penerbang tempur yang lebih baik selain Richthofen.
  • Agustus 1917
    Fokker triplane yang pertama dikirim untuk skuadron tempur Jagdgeschwader 1.
  • 1 September 1917
    Richthofen membukukan kemenangannya yang ke-60. Kemenangan ini menjadi kemenangan pertamanya setelah menggunakan pesawat tempur Fokker Dr.I triplane. Pada 6 September 1917, dia mengambil cuti untuk penyembuhan sakit pada kepalanya. Pada bulan berikutnya ia kembali menggunakan pesawat tempur VD Albatros.
  • April 1918
    Richthofen mencatat dua kemenangan lagi saat terbang menggunakan Fokker Dr.1 triplane. Meskipun pesawat tempur yang ia terbangkan sebagian besar adalah pesawat terbang bertype biplane pada hampir seluruh karirnya, dan pesawat-pesawat terbang itu juga dicat dengan warna merah, Fokker Dr.1 triplane inilah yang membuatnya dikenal dunia dengan sebutan The Red Baron.
  • Pada tanggal 21 April 1918, Richthofen mengikuti pesawat tempur Camel Sopwith yang dikemudikan pilot Wilfred May hingga masuk jauh ke wilayah Inggris hingga sebuah peluru yang ditembakkan dari belakang menembus dadanya. Tembakan ini diyakini berasal dari penembak Australia di tanah, tapi mungkin juga berasal dari senjata penerbang Kanada Arthur “Roy” Brown yang datang untuk membantu May. Pesawat yang dikemudikan Manfred von Richthofen terhempas di sebuah lapangan yang terletak di samping jalan antara Corbie dan Bray. Tubuhnya ditemukan oleh pasukan Inggris, dan dia dikuburkan dengan upacara militer penuh.

Detik-detik tewasnya Red Baron
Pukul 10.15 pagi, Fokker berwarna merah menyala itu meluncur ke angkasa bersama dua lusin pesawat tempur lainnya. Tujuannya Sailly-le-Sec, lembah Somme, Perancis dalam misi offensive patrol. Red Baron memimpin rombongan pesawat itu yang juga sering disebut sebagai “Richthofen’s Flying Circus ” atau “Sirkus Terbang Richthofen” dan gemuruh mesinnya meraung dan mengusik ketenangan pedesaan Jerman.


Di pihak lain pada waktu yang hampir bersamaan, Kapten Roy Brown, pilot kebangsaan Kanada berusia 24 tahun juga meluncur ke angkasa dari aerodrome Bertangles, Perancis. Dibanding Red Baron, bagai bumi dengan langit, Brown masih belum apa-apa karena baru berhasil menjatuhkan 12 pesawat Jerman. Bahkan di skuadronnya sekalipun yaitu skuadron 209 RAF (AU Inggris), Brown tidak jauh berbeda dengan puluhan pilot lain dan tidak pernah dielu-elukan sebagai pahlawan. Roy Brown seperti penerbang Sekutu lainnya sudah sering mendengar cerita tentang Red Baron dengan Fokker merahnya dan ia menaruh kagum terhadap musuhnya itu. Sebaliknya Manfred von Richthofen sama sekali tak pernah mendengar nama Roy Brown, pilot Kanada yang pada pukul 11.00 sedang melakukan patroli rutin di ketinggian 10.000 kaki bersama dengan 15 pesawat tempur buatan Inggris Sopwith Camel ke wilayah Sailly-le-Sec.
Dua pesawat pengintai jenis RE8 sedang terbang rendah di wilayah itu. Malang bagi mereka rombongan “Sirkus Terbang” melihatnya. Maka dimulailah pembantaian udara tak mengenal kasihan. lebih dari 20 pesawat tempur Jerman siap mengeroyok dua pesawat pengintai yang lamban dan tak berdaya !


Di ketinggian Roy Brown melihat pembantaian yang terjadi di bawah. Ia dan teman-temannya segera membantu seraya menukik tajam ke ketinggian 3,000 kaki dimana pesawat-pesawat Jerman itu berada. Mereka tahu bahwa mereka kalah jumlah dan kualitas. Jerman dengan 25 pesawat dengan penerbang sangat terlatih melawan 15 pesawat Inggris, 8 diantaranya pun merupakan pilot-pilot Australia yang masih “hijau” dan baru saja tiba di Perancis. Kedelapan pilot itu dilarang bertempur sampai cukup pengalaman berduel di udara. Salah satu pilot Australia itu adalah Letnan Wilfred May. Sempat ragu melihat keperkasaan Fokker-Fokker Jerman tapi segera dibuang pikirannya jauh-jauh. Keselamatan dua pengintai itu jauh lebih penting pikirnya. May nekat membawa pesawatnya masuk ke kancah pertempuran dimana seharusnya ia menghindar ke tempat yang aman. Munculnya rombongan Sopwith Camel secara mendadak mengejutkan pilot-pilot Jerman. Beberapa detik kemudian empat Fokker ditembak jatuh dengan sebuah diantaranya milik May.
Namun May tak dapat merayakan keberhasilan first kill-nya ini. Sang Red Baron melihat pesawatnya dan segera menjadikannya calon korban ke-81. Dalam beberapa kali tembakan beruntun dari sepasang senapan mesin Spandau-nya, pesawat May tercabik-cabik. Harapan satu-satunya kabur dengan terbang rendah menginggalkan pertempuran sambil berlindung dibalik tembakan artileri udara Sekutu. Sayang Red Baron terus memburunya laksana elang memburu mangsa, sepertinya dalam hitungan detik sudah jelas siapa pemenangnya. Roy Brown melihat kejadian itu dan segera meninggalkan arena pertempuran untuk membantu May. Letnan May masih berusaha menghindar tapi takkan bisa menandingi kehebatan Red Baron. Dengan satu rentetan tembakan Red Baron pasti akan memenangkan duel udara melawan May.
Namun tepat diatasnya Sopwith Camel milik Roy Brown melayang mendekati ekor Fokker milik Red Baron. Nyaris tak ada gerakan mengelak dari Red Baron karena terlalu sibuk mengikuti pesawat May dan memilih saat yang tepat untuk menghabisinya. Bahkan pilot sekaliber Red Baron-pun bisa lupa akan aturan utama bagi setiap pilot pemburu yaitu always check your six ! Benarlah, begitu ekor Fokker muncul dihadapan Brown tanpa membuang waktu lagi ia menekan tombol sepasang senapan mesin Vickers yang terpasang dihidung pesawatnya. Ratusan peluru menghambur dengan cepat seraya merobek warna merah menyala kulit pesawat Red Baron yang selama ini menjadi momok penerbang Sekutu. Detik itu juga Red Baron baru sadar, berusaha mengelak tapi terlambat. Hantaman peluru menerjang kabin pilot dan mesin pesawatnya. Seketika itu Fokker milik Red Baron terbakar dan melayang makin rendah dan menghujam ladang gandum di wilayah Sailly-le-Sec. Saat itu Roy Brown dan Wilfred May tidak menyadari bahwa mereka baru saja berduel sekaligus menembak jatuh jagoan udara dan pahlawan nasional Jerman yang terkenal ke seluruh penjuru dunia.


Sisa-sisa Fokker Red Baron (kiri). Dengan upacara kemiliteran (kanan), Red Baron disemayamkan di sebuah pemakaman kecil Bertangles sore hari tanggal 22 April 1918 dengan melibatkan 12 orang berpangkat Kapten dari Skuadron 3 RAF (Australia) menembakan salvo ke udara sebagai tanda penghormatan terakhir.
Manfred von Richthofen ditemukan tewas dalam pesawatnya oleh infanteri Inggris dengan sebuah peluru menembus jantungnya. Sementara itu di Chappy, puluhan wartawan dan pemain musik sibuk bersiap-siap menyambut Red Baron pulang dengan membawa kemenangan udara. Tak terkecuali si juru foto yang memotret di depan hangar pesawatnya tadi. Ia berharap sang Red Baron akan kembali dengan gagah sehingga ia berkesempatan mengabadikan gambarnya yang legendaris itu sekali lagi….
Meskipun sering bersenggolan dengan Maut, Manfred von Richthofen jarang benar-benar terluka. Namun, keberuntungannya berakhir pada tanggal 21 April 1918 ketika ia tertembak jatuh oleh Captain Roy Brown (catatan resmi demikian, meskipun sekarang terbukti bahwa peluru yang membunuh von Richthofen berasal dari anti-aircraft gun di darat). Ia dikebumikan secara militer dan penuh kehormatan oleh pihak Inggris.
Ia gugur di usia dua puluh lima tahun.
If I should live through this war, I shall have more luck than sense. — Manfred von Richthofen

Versi Lain Kematian Manfred von Richtofen

Dalam kombat udara 6 Juli, Manfred von Richthofen terluka berat pada kepalanya hingga hingga ia terpaksa mendarat dekat Wervicq dan tidak bisa terbang untuk beberapa minggu. Kemenangan atas jago termpur Jerman ini diaraih oleh Captain Donald Cunnell yang tewas beberapa hari kemudian. Hari fatal bagi ace nomor satu Jerman ini terjadi pada pukul 11.00 pagi 21 April 1918. 

Manfred von Richthofen tewas, hanya 12 hari menjelang ulang tahunnya ke-26, saat terbang di atas bukit Morlancourt, dekat sungai Somme. Pada waktu itu Red Baron sedang mengejar pilot junior Kanada, Letnan Wilfrid “Wop” May dari RAF (Royal Air Force). Manfred von “Red Baron” Richthofen yang sedang mengejar May dilihat oleh flight comannder Kapten Arthur “Roy” Brown juga dari Kanada. Brown menukik turun menyerang Richthofen tapi serangan itu bisa dielakkan, ia lalu kembali mengejar May.

Pada pengejaran May itulah, diperkirakan sebuah peluru .303 melukai hati dan paru-paru Manfred von Richthofen dan mempercepat kematian sang jago tempur Jerman itu. Pada detik-detik terakhir hidupnya, The Red Baron masih mampu mendaratkan pesawatnya di suatu ladang dekat jalan Bray-Corbie, sebelah utara dari desa Vaux-sur-Somme, sektor yang dikontrol Australian Imperiaal Force(AIF). 
Seorang saksi mata, gunner George Ridgeway mengatakan, saat dia dan pasukan Australia tiba di pesawat, Red Baron masih hidup tetapi beberapa saat kemudian meninggal. Saksi mata lainnya, Sersan Ted Smout dari Australian Medical Corps mengutip kata terakhir yang keluar dari mulut Manfred von Richthofen mengatakan “kaput” (habis) sebelum ia menetup mata untuk selama-lamanya. Belum juga dapat dipastikan peluru milik siapa yang mengakhiri karier The Red Baron.



Manfred von Richthofen lahir pada tanggal 2 Mei 1892 Breslau, Jerman (kini Wroclaw Polandia). Ia meninggal di Vaux sur Somme, Perancis, pada tanggal 21 April 1918, menjelang usianya yang ke 26 tahun. Rekan-rekan di sekuadron terbangnya sering memanggilnya dengan sebutan der rote Kampfflieger (The Red Battle-Flyer), Orang Prancis menyebutnya le petit rouge, dan dunia lebih mengenalnya dengan sebutan The Red Baron. Dan pilot muda ini pun hadir sebagai penerbang tempur yang sangat ditakuti pada masa Perang Dunia I.

Pada masa Perang Dunia I, saat pesawat terbang tempur masih terbuat dari kayu dan kain, dua puluh kemenangan pertempuran udara membuat seorang pilot mendapat status sebagai pilot legendaris dan berhak untuk penghargaan Pour Le Mérite (“Blue Max”), Richthofen telah membukukan 80 kemenangan pertempuran udara. Dan hari ini dianggap sebagai The Ace of Aces.

Manfred von Richthofen adalah putra dari Mayor Albrecht von Richthofen, seorang bangsawan Prusia. Manfred adalah sulung dari tiga bersaudara. Pada usian 11 tahun dia terdaftar sebagai siswa sekolah militer di Wahlstatt, dan kemudian belajar di Royal Military Academy Lichterfelde. Manfred lebih pantas disebut sebagai atlet daripada seorang pelajar. Salah satu keterampilan olah-raga yang dikuasainya adalah menunggang kuda. Keterampilan itu untuk membuatnya menjadi seorang perwira kavaleri. Pada bulan April 1911 dia bertugas di Resimen 1 Uhlans Kaiser Alexander III. Dan pada tahun 1912 dia dipromosikan menjadi Letnan.






.